Looking for my geek side?

Thursday, March 11, 2010

Makanan di Malaysia, terutama Kuala Lumpur

Ini kedengarannya konyol, tapi setelah gw berkeluh-kesah di blog soal kepergian Papa, gw sekarang lebih plong. Anyway, back to my life.

Kalian mungkin tau, gw sekarang jadi kuli di negeri jiran. Sebelum kesini, gw sempat googling tentang Malaysia dan Kuala Lumpur, khususnya soal biaya hidup dan standar gaji (penasaran apakah penawaran mereka under atau good enough, hoho). Sekarang gantian gw yang sharing, tapi dari sisi lain.

Disclaimer: Gw disini baru tiga bulan. Karena ga ada teman hangout, gw lebih sering menghabiskan waktu senggang di rumah. Oh, kecuali disebutkan lain, gw hanya berbicara seputar Kuala Lumpur.

Ada tiga ras utama di Malaysia: Melayu, Cina dan India. Ada juga ras lain seperti Iban, tapi mereka minoritas. Malaysia merupakan negara favorit untuk menimba ilmu bagi orang-orang timur tengah, terutama Iran. Orang Eropa juga banyak terlihat terutama di pusat kota (bayangkan jalan Legian di Bali atau Kemang di Jakarta).

Soal makanan.

  • Karena multi-nasional, makanan disini sangat bervariasi.
  • Makanan disini cenderung “kurang rasa”, terutama jika dibandingkan dengan makanan Sumatera.
  • Mereka ga biasa menyediakan tissue dan botolan (sambal, kecap) di atas meja.
  • Kalau minta tissue kadang bayar (WTF???).
  • Mereka ga begitu suka pedas.
  • Sejauh ini, yang paling banyak variasinya adalah chinese food. Mereka menuliskan menunya ga pakai huruf latin, dan banyak pedagang yang bahasa Inggrisnya pas-pasan.
  • “Warung Padang” disini adalah rumah makan India (“nasi kandar”). “Warteg” disini adalah rumah makan “Mamak” (sebenarnya lebih mirip kafe sederhana ketimbang warteg).
  • Untuk warung Padang beneran biasanya di daerah yang banyak orang Indonesianya, misalnya Kampung Baru.
  • Pizza Hut disini ga enak. Pelayanannya payah, jauh dibandingkan di Indonesia.
  • McDonald disini juga ga enak, tapi sedikit lebih baik dari Pizza Hut. Mereka ga menjual nasi.
  • KFC disini hampir sama dengan di Indonesia (baik harga maupun rasa). Ga jual nasi juga.
  • Secara umum, sambal/cabe disini ga pedas, termasuk yang di fast food.
  • Di Indonesia, rumah makan yang ramai biasanya ada di dalam mall. Disini, orang-orang lebih memilih makan di restoran yang “kondisinya seadanya” (tanpa AC, bangkunya butut) tapi makannya enak. Di Indonesia kita melihat “nyaman”, disini melihat “enak” (meski makan keringetan).
  • Untuk sarapan, gw biasanya makan nasi lemak (anggaplah nasi uduk). Harganya rata-rata 2 RM (~Rp. 5.500). Kadang gw beli sandwich (2 RM juga), tapi nasi lemak lebih bikin kenyang.
  • Kalau pesan “teh”, akan dikasih teh+susu.
  • Kalau pesan “kopi”, akan dikasih kopi+susu.
  • Untungnya kalau pesan air putih, ga dicampur susu.
  • “Air putih” disebutnya “air kosong”.
  • Kalau mau pesan teh/kopi “doang”, bilangnya teh “O” atau kopi “O”.
  • Untuk sekali makan siang “orang kantoran” rata-rata 6 RM (~Rp. 16.500) dan kalau di mall rata-rata 12 RM (~Rp. 33.000).
  • Gw pernah sekali makan habis 25 RM, dan itu rasanya seperti mengeluarkan 25 ribu Rupiah (which of course, not true! 25 RM sekitar 69 ribu Rupiah). Biar ga boros, selalu ingat untuk “harga dikali tiga ribu”.
  • Malaysia adalah negara Islam, jadi makanan di mall, termasuk chinese food adalah halal, kecuali jelas-jelas tertulis “Non-Halal”.
  • Chinese food di luar mall kebanyakan ga halal. Hmm.. mungkin itu sebabnya teman-teman gw lebih prefer makan di luar mall.
  • “Mi” disini mungkin ada ratusan rasa.
  • Gw ga nemu Indomie disini, tapi kata teman Indonesia gw, seharusnya ada tapi rasanya beda (ga enak). Indomie asli dijual ilegal di beberapa tempat yang banyak orang Indonesianya.
  • Yang sering gw liat adalah mi Sedaap. Rasanya beda juga (ga enak).
  • Teh Botol Sosro sejauh ini hanya gw temui di rumah makan Tar di samping stasiun Chowkit. Udah beberapa minggu ini mereka ga ada stok.
  • Disini ga ada Hoka-Hoka Bento. Restoran Jepang disini rasanya “Jepang beneran” (ga tau juga sih, belum pernah ke Jepang, hehe). Pokoknya beda dengan Hokben yang rasanya “pop” banget (tapi gw suka, I’m so ordinary Indonesian).
  • Ikan asin keliatannya disini lebih dihargai, terutama di chinese food.
  • Nai goreng disini seperti nasi *digoreng sebentar banget* trus dikasih kecap *sedikit banget*. Dan mungkin ada ikan asinnya.
  • Di daerah kampus (bayangkan Depok), sekali makan bisa hanya bayar 3.2 RM (~Rp. 9.000). Nasi + daging + sayur.
  • Susu kedelai lumayan populer.
  • Minuman beralkohol paling populer adalah Carlsberg. Bisa dibilang itu “Bir Bintang”-nya Malaysia, soalnya banyak dijual di rumah makan pinggir jalan.
Secara umum, makanan disini sangat bervariasi tapi rasanya “nanggung” (kurang berani), dan harganya 1.5 - 2 kali lebih mahal dibanding di Jakarta. But of course, standar gaji disini 2-3 kali di Indonesia, so it’s not a big deal :)


21 comments:

  1. wuih udah kayak Pak Bondan dari WISATA KULINER di tipi itu...:)

    ReplyDelete
  2. hmmm....very interesting! Just remind me of my college life in Malay.

    ReplyDelete
  3. mantap bro
    makasih bgt berguna ni

    ReplyDelete
  4. nicky kangen ma malay:)

    roti cane disini ga seenak disana kak..

    hati hati disana

    ReplyDelete
  5. tapi..banana leaf, nasi bryani, nasi kandar, indian food and malay kampong food is the best..betulan.. Nasi lemak, roti canai n teh tariknya yg sama aku cuma dapetin di jalan jaksa di jta.. hhmm.. en kalu harga cafe, jelas2 lah disana lebih murah..

    ReplyDelete
  6. wah kok banyak yang gak enak. tetep nikmat di indo dong

    ReplyDelete
  7. maknyus mas thomas...lengkap kap..
    haha.. selamat berjuang di rantau mas,
    salam dari jakarta


    adek

    ReplyDelete
  8. Wah, d Malaysia jg rupanya. Salam kenal mas. Sy jg baru setahun d sana.

    Oiya, setau saya KFC d malaysia ada pake nasi juga kok, klo sekarang pake nasi briani.

    ReplyDelete
  9. Menarik tulisannya :) Thanks for sharing. Maksudnya Indomie kali mie instan ya? Indomie itu kan nama merek, bukan barang generik.

    ReplyDelete
  10. salam' saya suka lihat komentar tentang pengalaman hidup orang indonesia di malaysia supaya saya lebih memahami adat orang indonesia tq
    dari seorang yang suka indonesia ek4@gmx.com

    ReplyDelete
  11. kalau dibandingkan makan di Kalimantan terutama di daerah pertambangan seperti Balikpapan, Samarinda, Sangatta dan Banjarmasin harga2 di Kuala Lumpur terasa murah atau paling mahal setara. dari pendapatan orang yang kerja di minyak dan batubara kalimantan rata2 12x gaji tki/tkw di malaysia.

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu buat yang kerja di mining..yang ga kerja di mining tetep aja "rusuh" dompet na hahaha :D

      Delete
  12. Hai Thomas Salam kenal.. gw juga tinggal di KL, uda 3,75 thn hehe... gw bisa menambahkan soal makanan di mari :D indomie ada bo disini, orang gw sering beli, tp indomie gorengnya ga ada saosnya. Eniwei, gw juga baru gabung toasmaster club sejak bulan mei.

    ReplyDelete
  13. Laughing reading this blog.. very entertaining Pak!

    ReplyDelete
  14. Mohon info, bagaimana peluang usaha kuliner di KL? n berapa biaya kkontrak kamar/kost di KL?

    ReplyDelete
  15. wah, saya harus follow nih blog .
    saya baru dapet program exchange ke malaysia, tapi ke selangor (UNIVERISTI PUTRA MALAYSIA)
    bulan ini depart dari indonesia hehe

    kalau bisa, posting mengenai Selangor ya mas :)

    salam

    ReplyDelete
  16. Pak, kerja dimana? Saya baru dapet beasiswa ke Malaysia. Boleh ajak keluarga tapi bingung soalnya suami belum dapet kerja disana...takut malah bikin anak orang jadi pengangguran. Mohon info ya pak Thomas..

    ReplyDelete
  17. Wah mantap nih thanks buat reviewnya bulan depan mau berangkat ke malaysia untuk bekerja di daerah selangor. hhee

    ReplyDelete
  18. Pak....bisa minta no hape nya....soalnya saya masih beginer dan mau kesana pak....
    (‾ʃƪ‾)......pleasee help me.....

    ReplyDelete
  19. Thanks for posting.. Sbntar lg gw pindah ke KL.. tulisannya ngebantu bgt nih.. Tulis lg dong soal KL...

    ReplyDelete
  20. thanks buat info nya ngebantu bngt .. bulan ini gw mo kesana, takut bingung , hihih

    ReplyDelete