Showing posts with label bike. Show all posts
Showing posts with label bike. Show all posts

Monday, November 12, 2007

Bicycle for Earth Goes to Bali

Ternyata liputan yang kemarin gw lihat di TV adalah dalam rangka melepas Bicycle for Earth Goes to Bali--kontingen yang akan melakukan kampanye perubahan iklim. Kontingen ini akan bersepeda melintasi 44 kota di Pulau Jawa dan Bali selama 11 hari.

Secara kebetulan kemarin malam gw menonton An Inconvenient Truth dari Al Gore. Film yang menarik. Gw sangat tergugah sehingga memutuskan untuk menjadikan Lingkungan sebagai salah satu prioritas gw untuk tahun 2008 (seperti Wish List tahun ini). Tentu aja, untuk take action ga harus menunggu selama itu :-)

Sunday, November 11, 2007

Presiden SBY mempromosikan sepeda

Tadi malam gw melihat sekilas di TV, Presiden SBY bersepeda sambil mempromosikan kegiatan bersepeda. Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo bahkan mengatakan jika pengguna sepeda di Jakarta mencapai certain threshold, dia akan mempertimbangkan jalur khusus untuk sepeda. Wow!

Keduanya berita baik untuk dunia persepedaan dan lingkungan hidup pada umumnya. Jika kita bisa lebih sering bersepeda atau menggunakan kendaraan umum ketimbang kendaraan pribadi (motor atau mobil), kita bisa mengurangi kemacetan, biaya transportasi dan polusi udara.

Semoga ini bukan hanya untuk menyambut KTT di Bali nanti.

Saturday, June 16, 2007

Jakarta Bersepeda


Hari Minggu kemarin (10/06/07) gw dan beberapa teman berpartisipasi dalam event Jakarta Bersepeda. This blog entry is somewhat outdated, sorry, soalnya gw menunggu publish foto dulu.

Jakarta Bersepeda adalah event yang diselenggarakan oleh Pemerintah DKI Jakarta dan komunitas Bike To Work (BTW) dengan menggandeng beberapa sponsor (yang gw liat: Indosat dan Polygon). Gw mendapat info ini secara kebetulan: gw kenalan dengan salah seorang panitianya (it’s brotherhood stuff, I saw him riding a bike) ketika sedang makan nasi goreng di daerah Meruya.

Singkat cerita, Minggu pagi (4:45) gw meluncur ke rumah teman gw untuk selanjutnya berangkat bareng (5:30) ke Monas. Kami bertiga bersepeda. Menjelang Monas kami bertemu beberapa pesepeda lain yang sama-sama menuju Monas. Beberapa dari mereka bercerita mereka rutin bike to work. Terlihat banget dari betis mereka yang segede paha.

Sesampainya di Monas kami muter-muter sebentar melihat pemandangan (tiga cowo berkumpul, ga usah ditanya pemandangan seperti apa yang dicari). Temen gw bahkan sibuk mencari penjual rokok (ya, itu kontradiktif dengan kegiatan yang mau kita lakukan). Gara-gara ga langsung daftar, kami ga dapet kaos dan cukup dihibur dengan snack.

Kemudian kami (seluruh cyclist yang hadir) berkonvoi keliling kota. Rutenya gw ga hapal, kurang lebih daerah Medan Merdeka, Museum Fatahilah, Mangga Besar dan Stasiun Kota. Ini menyenangkan sekali, baru kali ini pesepeda bisa melaju di jalur tengah (biasanya rebutan jalan sama tukang es krim dan tukang gerobak sampah).

Meski demikian ada beberapa hal yang gw sayangkan. Hanya karena kita bersepeda, bukan berarti bisa seenaknya melanggar lalu lintas. Gw kadang melihat rekan-rekan (termasuk gw, hehe) menerobos lampu merah, melewati trotoar, bahkan melewati jalur busway. Menurut gw ini berbahaya.

Anyway, ga lama kemudian (ga sampai 1/2 jam kayaknya) kami kembali ke Monas. Disana kami disuguhi snack dan hiburan panggung. Terus terang hiburannya kurang efektif, IMHO. Mataharinya terik banget. Orang-orang cenderung memilih duduk di tempat sejuk ketimbang berdiri di depan panggung yang terbuka.

Setelah menunggu doorprize (gw ga begitu menyimak, tempat istirahat gw lumayan jauh dari panggung), gw dan teman-teman pulang ke Bekasi. Dan perjuangan sesungguhnya pun dimulai.

For your viewing pleasure, I’ve uploaded a significant amount of pictures I took during the event. You can see them in my Picassa Web Album. Those pictures are copyrighted, but you may use them for non-commercial use. Please e-mail me first for permission.

Sunday, April 15, 2007

Sepeda

Di blog sebelumnya gw menulis tentang keinginan untuk kembali berolahraga (please don’t tell me Tukul’s “kembali ke laptop”. I spend 14 hours a day in front of laptop and has it more than enough). Disitu gw sempat menyinggung soal sepeda. Gw akan cerita lebih banyak disini.

Terakhir kali gw mengendarai (menggenjot?) sepeda adalah waktu masih SD. Setelahnya gw ga cukup pede membawanya keluar, considering the fact that my friends were riding BMX and I was still with my feminine-styled (my own wording) bicycle.

Lagipula saat itu gw jatuh cinta sama komputer. The damn thing that consumed me ever since. Mungkin itu salah satu alasan kenapa gw ga pernah tertarik untuk belajar motor (yes, for the n-th time, I told you I can’t ride a motorbike, and has no interest in it for the time being).

Anyway, beberapa hari lalu temen gw mengatakan bahwa dia baru saja membeli sebuah sepeda gunung. Harganya sekitar 1.6jt. Mungkin penggemar sepeda akan berkata, “lumayan murah”. Tapi gw yang sudah belasan tahun asing dari dunia “persepedaan” langsung terperangah, “Busyet, mahal banget. Gw pikir sepeda harganya 200ribu-an!”

Tapi idenya bagus juga. Bulan depan gw ada rencana untuk membeli sepeda. Saat ini gw naksir Polygon tipe xtrada atau quatro.

mens sana in corpore sano

Orandum est ut sit mens sana in corpore sano (Hendaknya engkau berdoa agar ada jiwa yang sehat di dalam badan yang sehat). Kolom IPTEK di KOMPAS Rabu, 11 April 2007, kembali mengingatkan gw akan pentingnya olahraga.

Semua orang tahu olahraga itu penting. Gw juga tahu. Tapi berapa banyak orang yang benar-benar melakukannya, rutin? Yang pasti gw ga termasuk.

Selama ini gw berlindung di balik kesibukan sehari-hari. Dengan 14 jam di depan komputer dan 7 jam untuk tidur, hanya sisa 3 jam untuk melakukan aktivitas lain: makan, minum, berangkat/pulang kerja, mandi. Olahraga? Kapan-kapan. Untuk bersosialisasi saja waktu gw kurang.

Akibatnya jelas, gw jadi mudah sakit. Gw ga tahan udara yang terlalu dingin, apalagi udara dingin buatan (AC dan kipas angin). Gw juga ga tahan udara panas. Intinya gw seperti bakteri yang hanya akan tumbuh subur pada suhu kamar. Menyedihkan.

Padahal gw sadar gw ga dilahirkan dengan fisik terhebat di dunia. Gw bahkan lahir prematur (I don’t blame my mom. Katanya bayi prematur lahir dengan kecerdasan di atas rata-rata). Gw juga sadar penyakit-penyakit ndeso terlalu sering menyerang gw: pilek, demam, diare. Tapi kenapa sulit sekali bagi gw untuk hidup sehat?

Well, gw ga seutuhnya payah dalam urusan memperhatikan kesehatan. Sudah lama gw minum susu tanpa gula, ga merokok, membatasi konsumsi obat (saat sakit gw lebih pilih makan yang banyak) dan hanya minum minuman beralkohol pada situasi tertentu (I drink socially). Sewaktu kuliah gw bahkan sempat rajin olahraga dan melakukan diet makanan (memperbanyak sayuran dan mengurangi daging).

Tapi beberapa bulan terakhir ini gw benar-benar payah. Gw udah lama ga joging, berenang, workout, bahkan gw udah jarang sekali makan sayur. Beberapa hari belakangan ini gw bahkan sering merasa nyeri di pergelangan tangan kanan. Gw sampai panik jangan-jangan ini RSI (Repetitive Strain Injury).

Gw ingin banget kembali seperti dulu, rajin olahraga. Tapi gw bingung mulai dari mana. Secara kebetulan, salah seorang sahabat gw membeli sepeda gunung (MTB) Polygon astroz. Gw kaget, tumben banget!

RSI, artikel di KOMPAS, sepeda gunung. Semuanya secara kolektif gw anggap sebagai pertanda untuk mulai kembali berolahraga. Gw tertarik dengan ide sepeda, mungkin bulan depan gw akan beli juga. Siapa tahu kelak gw bisa ikut kampanye Bike to Work :-)

Looking for my geek side?