Wednesday, November 29, 2006
[Announcement] JaMU 24
Java Meet Up (JaMU) 24 - Jakarta
Tempat:
SUN Microsystem Indonesia
Lantai 13, Gedung Wisma Metropolitan I (WTC Sudirman)
Jakarta
Waktu:
10.00 - 13.00 WIB
Hari/Tanggal:
Sabtu, 2 Desember 2006
Pembicara dan Topik:
Daniel Baktiar - Maven 2
Endy Muhardin - Subversion
Biaya:
-- FREE --
Pendaftaran:
Kirim email ke: jug-indonesia-owner@yahoogroups.com
Subject: [JaMU 24] Registration
Content:
Member Information
Name:
Position:
Company:
Website:
Contact Number:
Comment:
Note:
Tidak ada konfirmasi dari moderator, silakan langsung datang ke acara.
salam hangat,
Thomas Wiradikusuma
Panitia JaMU
Thursday, November 23, 2006
IWIC – the show, part 1
Menurut jadwal yang dibagikan, peserta diharapkan datang antara jam 10-12 siang untuk registrasi. Karena bangga mengusung budaya Indonesia, gw datang telat. Isra sempat ngomel-ngomel ketika tahu gw masih di jalan sewaktu dia telpon. Apa mau dikata, omelannya ga mempan menghilangkan macet yang menghalangi mobil gw dengan gedung Indosat.
Sesampainya di tempat tujuan, gw langsung memproses diri gw dan makan. Isra memberikan uang sekian ratus ribu sebagai “pengganti uang taksi” (gw sudah jelaskan kalau gw ga naik taksi, tapi dia tetap memberikannya). Mas Mardi yang saat itu sedang makan berkomentar sambil tertawa, “Wah telat nih. Kebiasaaan ya orang Jakarta.” Hehe.. maaf Mas!

Kemudian ada beberapa briefing, dilanjutkan dengan foto-foto di luar gedung. Saat itu kondisi fisik gw sedang ga fit, jadi tampang gw di foto mirip orang pesakitan. Ga lama kemudian kami (para finalis dan sebagian panitia) berangkat ke wisma Indosat di Jatiluhur.
Selama di bis gw ngobrol dengan Budi Daryatmo, finalis dari Palembang. Dia juara satu tahun lalu, dan juara satu lagi tahun ini (akan gw jelaskan kemudian). Capek ngobrol, gw tidur. Sebagian besar dari penumpang bis juga tidur, kecuali sopirnya tentu saja (gw ga akan disini menulis blog kalau sopirnya tidur waktu itu).

Sesampainya di wisma, kami langsung berberes dan di malam harinya briefing setelah makan malam. Vinta, salah seorang EO ( event organizer), berbaik hati meminjamkan minyak kayu putih (atau minyak angin? Sama saja lah) ke gw, karena saat itu kondisi gw masih belum fit. Maklum, sehari sebelumnya sempat bergadang menyelesaikan prototipenya.
Berhubung prototipe gw belum selesai juga, terpaksa sehabis briefing gw kembali meneruskan prototipe gw. Untung gw ga sendirian, ada beberapa teman yang turut sibuk memoles prototipe masing-masing. BTW, perhatikan penekanan kata “meneruskan” dengan “memoles”, terlihat bahwa orang malas (gw) ternyata berbeda dengan orang-orang rajin :-)
Perjuangan di malam hari itu sungguh melelahkan. Sampai akhirnya hanya gw dan Rochadi Hartanto, wakil Jakarta dan sekitarnya kategori Hardware, yang bertahan. Seperti biasa, ketika otak berpikir keras maka perut bergejolak lebih keras lagi. Untungnya Mas Mardi came to the rescue, membawakan kami martabak manis dan martabak sayur. Entah dapat wangsit dari mana beliau kepikiran membawakan kami makanan. Ga lama kemudian Hadi gugur, dan gw bekerja sendiri ditemani jangkrik sambil menyesali nasib (hehe..).
Beberapa teman yang kebetulan keluar kamar mengambil minum agak kaget melihat gw masih melek. Gw sempat mau menyerah, tapi mereka terus mendukung gw. Hiks.. kalau mengingat saat itu, mengharukan sekali. Akhirnya gw kembali bekerja, sendiri, sambil sesekali mengigau. Sekitar jam 3 prototipe gw selesai sudah. Gw kemudian tidur dengan tenang.
Perjalanan gw dan teman-teman selama masa kontes masih panjang. Besok akan gw tulis kelanjutannya. Stay tuned guys!
Wednesday, November 22, 2006
Love blinds. Men should lead.
Gw takut dikecewakan lagi. Pernah suatu waktu gw jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang cewek imut, yang baru satu minggu kenalan sudah gw tembak. Saat itu perasaan gw benar-benar tulus, benar-benar sayang (gw sampai bilang ke sahabat-sahabat gw, “Guys, gw pensiun dari main-main dengan cewek.”). Tapi ternyata gw “dikhianati”. Dan itu bukan kejadian pertama. Pengalaman seperti itu membuat gw sangat menjaga jarak dengan cewek, especially when it comes to serious relationship.
Here I am now, still single. Ga hanya gw yang sewot dengan “kejombloan” gw, orang lain juga demikian. Banyak yang ga percaya gw jomblo. Mereka bilang, “Masak sih cowok kayak lo belum punya cewek?” Beberapa bahkan sempat berpikir gw gay. Astaga, itu sama sekali ga benar!
Cinta sangat mempengaruhi produktivitas gw. Kadang gw bisa sangat produktif, namun ketika gw merasa diabaikan, produktivitas gw menurun tajam. Contohnya ketika gw sms-an dengan cewek yang gw suka. Ketika smsnya lancar, gw sambil bersiul mengerjakan pekerjaan gw. Namun ketika smsnya berhenti, gw langsung berpikir yang tidak-tidak (padahal mungkin lawan sms gw sedang ada halangan tertentu), dan gw langsung malas melanjutkan pekerjaan. Mungkin ini bukan cinta dalam artian sesungguhnya, tapi ini sungguh mengganggu.
Lalu ketika gw berniat untuk menjalin hubungan serius dengan cewek, justru ceweknya yang tidak siap. Ini kadang terjadi. Alasannya kurang lebih serupa: trauma sehingga menjaga jarak. Halah, kok bisa begitu ya?
Mulai saat ini gw akan bersikap tegas dengan cewek seperti itu. Take me or leave me. Sebagai konsekuensinya, gw juga harus belajar ga menyandarkan perasaan gw ke cewek. Come on Thomas, lo kan cowok! Diciptakan seperti Adam, menjadi pelindung dari tulang rusuk, dan bukan sebaliknya!
Road to IWIC
Saat itu gw ga langsung percaya. Gw bahkan sempat bertanya, “buktinya apa kalau Mas memang dari Indosat?” Tapi berhubung Isra nyerocos terus, akhirnya gw anggap saja dia memang benar. Intinya Isra mengucapkan selamat dan menyarankan agar gw segera mempersiapkan prototipe konsep yang gw usung. Saat itu pertengahan Oktober, menjelang libur Lebaran.
Apa itu Indosat Wireless Innovation Contest? Kalian bisa lihat di situs Indosat mengenai IWIC. Gw tau kontes ini dari iklan di KOMPAS hari Kamis, awal(?) September. Saat itu gw langsung tertarik dan gw simpan korannya. Tapi sayangnya korannya hilang (iklannya hanya ada di hari itu), sehingga gw sempat berpikir, “Ya sudah lah, mungkin bukan buat gw”.
Secara kebetulan, di akhir September gw datang ke Galeri Indosat di samping kantor. Gw mau bayar tagihan Matrix yang sudah telat (hehe.. kebiasaan). Pas gw lagi antri, eh, ternyata ada posternya! Buru-buru gw foto deh pake kamera di ponsel gw. Gw lihat tanggal deadline-nya.. Waks, tinggal beberapa hari lagi!
Sialnya lagi, berhubung gw super pelupa, sampai rumah gw malah sibuk mengurusi hal lain. Gw baru ingat kontes itu sehari (hari Minggu) sebelum deadline. Berhubung gw pernah kuliah, gw sudah berpengalaman menerapkan SKS (Sistem Kebut Semalam). Alhasil gw selesai juga merangkai konsep, berupa presentasi Power Point. Saat pengumpulan naskah, sungguh, gw sama sekali ga berharap dipanggil. Lha, bikinnya aja semi-asal. Itu sebabnya gw agak curiga pertama kali Isra telpon. Tapi setelah telponnya ditutup, gw langsung lompat-lompat kegirangan (ini majas, tentu aja, gw ga mungkin melakukannya di kantor).
Libur Lebaran seminggu gw habiskan di Bandung bersama keluarga. Gw bela-belain bawa laptop supaya bisa buat prototipe yang diminta. Rencana gw waktu itu, tiga hari di Bandung cukup untuk menyelesaikan semuanya. Gw salah. Disana gw malah bisa dibilang ga bikin prototipe. Suasananya terlalu adem sehingga gw kebanyakan tidur daripada kerja!
Sepulang dari Bandung, gw buru-buru cari kos dekat kantor. Maksud gw, lagi-lagi, supaya gw bisa buat prototipe. Logika gw adalah, kalo gw kos, gw punya lebih banyak waktu untuk bikin prototipe, daripada waktu gw habis percuma di jalan. Logika ini ternyata ga berjalan sempurna karena alasan yang gw tulis di blog sebelumnya.
Anyway, despite the fact gw belepotan bikin prototipenya, the show must go on. Indosat mensyaratkan seluruh finalis (ada 17 dari seantero Indonesia) mengikuti karantina dari tanggal 13-16 November. Ini masalah buat gw. Pertama, gw baru dua bulan kerja di tempat yang baru. Gw masih pegawai percobaan! Kedua, gw lagi di tengah proyek kantor yang sudah dekat deadline.
Kedua hal itu pasti akan jadi penghalang utama gw ketika minta cuti. Dan itu memang terbukti, bos gw agak keberatan. Tapi entah kenapa, akhirnya gw diberikan ijin juga. Bagi yang penasaran, “kalau ternyata ga dikasih, bagaimana?” Jawaban gw sederhana, gw akan tetap ikut. I leave the reason for your exercise.
Nah, sekarang gw ingin cerita pengalaman gw selama dikarantina Indosat. Tapi.. gw mandi dulu ah, dari pagi belum mandi nih! Maklum, hari ini gw cuti kerja, gw kurang enak badan (malu ah cerita detilnya, cukup beberapa orang dekat saja yang tahu).
Tuesday, November 21, 2006
Kisah duka ngekos
November 21. Whoa, more than a month since my last blog! I failed to fulfill my desire to blog regularly, at least twice a week. Well, here’s a new entry, better late than never.
A lot of things happened during the period. I finally dwell in a “kos”, I was elected as one of the IWIC’s finalist (and came up as the third winner, Software category), and my romance life was a bit fluctuated. I’m not going to talk about the latter, of course.
Gw ngambil yang bawah, karena waktu gw survey (Minggu sore) yang bawah lebih adem meski tanpa kipas dan AC. Kelihatannya keputusan gw salah. Senin besoknya, sepulang kerja, ternyata kamar gw sama sekali ngga adem. Setelah kenalan dengan beberapa anak di atas dan main ke kamar mereka, ternyata kamar mereka justru yang adem. Untungnya minggu depan gw bawa kipas berbentuk AC portabel. Sekarang kipas itu rusak (duh!).
Friday, October 13, 2006
Larangan Penerimaan Parsel dan Mentalitas Pengusaha
Para pengusaha parsel, khususnya yang tergabung dalam APPI (Asosiasi Pengusaha Parsel Indonesia), mengungkapkan kegelisahannya. Tentu saja, mengeluh karena pendapatan menurun tidaklah etis bagi pengusaha. Mereka lebih memilih mengeluarkan “kisah sedih” yang menimpa karyawannya: PHK, penurunan gaji, sampai ilustrasi, “usaha parsel saya telah membantu anak-anak muda setempat lepas dari pengangguran, sekarang saya harus merumahkan mereka lagi.” Yeah, right.
Kalau memang mereka merugi, kenapa tidak jujur mengatakan “saya rugi kalau begini terus, padahal bulan depan saya mau ajak istri muda saya belanja di Hongkong” (wordings may vary). Bukannya “kisah sedih buruh” tidak ada, tapi pengungkapannya cenderung sekedar menjadikan buruh target pelampiasan.
Lucu. Mereka yang memecat dan mengurangi gaji karyawan-karyawannya, KPK yang “disalahkan”. Ini adalah tindakan reaktif, bukan proaktif. Masalahnya bukan pada pemecatan karyawan (mungkin ini solusi terbaik untuk keselamatan ekonomi pengusaha yang bersangkutan), tapi pada statement implisit “saya terpaksa melakukannya karena KPK membuat saya begitu”.
Come on, KPK tidak melarang pengusaha parsel berbisnis. KPK hanya melarang pejabat menerima parsel. Mayoritas penduduk Indonesia bukan pejabat kan? Kenapa harus menyalahkan KPK? Kenapa tidak menanggung tanggung jawab (merugi adalah konsekuensi logis berbisnis) dan secara jantan bersikap efektif?
Seharusnya para pengusaha memiliki mentalitas kelimpahan (abundance mentality), sebuah paradigma bahwa ada banyak di luar sana untuk semua orang. Jika pasar dirasa sudah saturated, terlebih akibat pelarangan KPK, ada baiknya mereka berinovasi dengan strategi blue ocean.
Fellow entrepreneurs, you have the capacity to overcome your problem. Don’t waste your time cursing others.
Semoga KPK tetap konsisten dengan usahanya memberantas korupsi di negeri ini. Semoga para pengusaha parsel menemukan solusi terbaik untuk kepentingannya. Semoga para buruh parsel tetap dapat bekerja dan menghidupi keluarganya.
Sunday, October 08, 2006
Shelter for the peace of mind
I told him I’m still looking. I also told him, in weighted priority list, I want to find a “kos” which is:
- Comfortable, since I’ll be spending my night-time in it (either working late at night or sleeping). One with air conditioner (AC) is preferable. I once visited my friend’s “kos” somewhere around Untar (Tarumanegara University). It was an unpleasant experience. I might be exaggerating, but the room was uncomfortable.
- Somewhere around my office. Much better if I can walk to/from office on foot, cuts transportation expenses.
- Affordable, with reasonable cost/benefit.
- Surrounded by lots of places to dine, cheap ones.
- Close to street passed by bus going to/from my office.
- Both for men and women. Men tend to ignore their surroundings, women do not. In case I need something (ketchup?), I know where to ask.
- Next to “kos” with lots of chicks in it. I decided to “kos” so I can spend more time in the office, so living in an all-chicks neighborhood won’t add significant value. Moreover, I’ll spend my weekends at home. But I can use this benefit to show off to my friends :-)
- Somewhere around my office. Thing is, I haven’t found any. Some do exist, but they’re not empty. The are “kontrakan”s (house which you can rent), but I think “kontrakan” is an expensive solution.
- Somewhere around Untar. So far this is my favorite spot: close to Grogol (ultimately all access to anywhere), just one ride to office, and there are lots of chicks. The downside? Pricy.
- Somewhere in Meruya. Actually I haven’t explored this area, somebody just told me to look there, notably around Mercu Buana University (but it’s far too distant from my office). Compared to that around Untar, supposedly it’s cheaper. My only objection is that afternoon traffic sucks. Because the street is one way, everybody heads to Meruya!
- Somewhere around Binus (Bina Nusantara University). Although I spent my undergraduate life in Binus, I hardly know “kos”es surrounding it. It might costs as expensive as in Untar.
- Cut time. I live in Bekasi, I work in Kebon Jeruk. I could save 3-4 hours daily.
- Better energy utilization. This is tightly related to point 1. Spending a considerate amount of time commuting not only wastes time, but also drains energy. I can’t do anything useful in the bus. I can’t sleep comfortably, I can’t read books, let alone working. If I “kos”, I expect to have more energy to spare. I can continue to work, I can concentrate on my open source projects, I can read books, I can do more.
- Learn how to live on my own. Someday I will take college abroad, consequently far away from home. “Kos” is a great test drive. Whenever I feel homesick, home is two hours away :-)
- Some friends of mine think I take “kos” to be “free”. I don’t take that seriously. I’m currently working, I can’t “skip classes” anytime I like. If hanging in clubs is a reason, I really don’t have to “kos”; I can go out anytime I want from my parents’ house. I spend the night almost every weekend in a friend’s place.
- Some friends also think that I “kos” so I can freely get naughty with chicks by inviting them in. I don’t take this seriously either. If I want to get naughty, I don’t have to “kos”; I can do that in their “kos”, or a cheap hotel room. One of my top reasons to “kos” is so I can have more time to do useful things. Playing with chicks is counter-intuitive.
So, when will I really get a “kos”? After finding the right one, of course. Previously I wanted to get one quick, because I was overwhelmed by a project deadline (I wanted to be able to spend more time in the office without worrying my way home). Now I think I'll wait after Idul Fitri.
Saturday, October 07, 2006
In search of a new bike
I need a new bike. Since I’m a man, it’s natural for me to prefer a “man’s bike”. If I can’t afford a CBR, at least I want Tiger or something equal (Scorpio or Thunder). I always think before buy. I asked my friends, browsed many websites; I even picked up brochures when going to malls. I brainstormed my decision.
What’s the summary? My friends tend to choose small bikes because it’s cheaper (both in terms of purchase and maintenance), and it’s well suited for highly trafficked city like Jakarta (we can do “maneuverings” without much effort).
I give up, I choose not to pick a “man’s bike”. I found one strong reason not to pick it: I want everybody in my family to be able to use my (soon-to-be) bike. I won’t be using it everyday and I don’t want it sit idly when I don’t use it. That’s not good in terms of utilization.
If I bought a Tiger, I’ll be the only one in the family who can use it, since I’m the only man (my dad makes it two, but he doesn’t ride bikes anymore). The only reason I want Tiger is because it’s “cool”. It’s faster than small bikes, but I don’t need that feature. I choose my family over my ego :-)
But I still want style, not just functionality. Ordinary small bikes simply don’t fit (and for an idiot reason: I already have one). If it can’t be “cool”, at least I want it to be “different” (this is one of my stupid traits). After some lengthy discussion with my friends, I came up with an idea: buy a scooter—Yamaha Mio or Honda Vario (just released). I’ve seen both, they look interesting.
I was just about to get one, but a friend of mine suggested that I wait until the beginning of 2007—some economical reasons I don’t understand. That’s a good idea anyway, I can start saving meanwhile (so in time, I can buy it cash). He’s a good friend of mine. I follow his advice.
Thomas, what if the chick you currently have crush on refuses to hang out with you, because you don’t ride on a “man’s bike”? Well, despite the crush, why bother hanging out with such chick?
Friday, October 06, 2006
Long time no see
Man, this is creepy.
It’s my blog that I’ve left for months. I’m so ashamed. Months before I promoted the concept of "blogging" to my friends. I told them blog is an effective communication tool in the Internet. Blog is a practical storage for keeping ideas. Blog is revolutionary.
But then I stopped using it for ages.
I set up more blogs than I could handle: one at livejournal.com, one at blogger.com, and another at my very own website (wiradikusuma.com). For the sake of (wanting to be) a distinguished Java programmer, I set up a blog in jroller.com. Now that's 4 blogs.
Am I effectively communicating then? Having practically keep my brilliant ideas? Revolutionize myself, the Internet and the rest of the world? No. Zero. Null. Mickey Mouse is still a mouse.
Effective communication.. to whom am I communicating with?
Keeping brilliant ideas? If they're so brilliant, how come they never went to concrete implementation?
I'm beginning to doubt the power of blog. If it has one. Let me cynically comment on what some people think about blog.
A blog connects you with the people who matter
And a classified doesn't? For peer-to-peer "connection", wouldn't phone call a nicer option?
It’s easy to start and maintain
To who you're talking with? My mom doesn't know how to start blogging, let maintaining alone. Neither folks in my neighborhood.
I'm not starting a war here. Especially not with marketing guys telling blog is good for business (probably it is, for their business).
Could somebody tell me some practical values of blogging?
Monday, June 26, 2006
First semester, an introspection to my 2006 wish list
Setup wiradikusuma.com
Ide utamanya adalah registrasi domain, sewa hosting, setup CMS+ layout, dan isi dengan content. Meski sekarang akses ke wiradikusuma.com sangat lambat, gambar-gambar tidak tampil dan layout-nya belepotan, belum lagi isinya belum sesuai yang gw harapkan, gw anggap wish ini sudah tercapai 75%.
Yang masih harus dilakukan: migitasi kelambatan (meski itu berarti pindah hosting) dan perbaiki layout. Migrasi CMS mungkin perlu dilakukan.
Deliver MINITIATE
MINITIATE adalah nama sandi untuk sebuah proyek game development berbasis JavaME untuk cellular phones. Motivator proyek ini adalah lomba game development yang iklannya pernah gw baca di suatu majalah ponsel. Proyek ini gagal karena lombanya kelihatannya tidak dilanjutkan panitia. Meski wish ini gagal, beberapa codebase-nya terpakai dalam presentasi gw di JaMU 19 mengenai JavaME.
Help Dad's business
Sampai saat ini gw belum sempat merealisasikan pembuatan website untuk perusahaan papa maupun organisasi yang dipimpinnya. Tapi akan banyak kejutan ke depan, khususnya setelah beberapa business-related events yang (akan) terjadi belakangan ini. Wish ini belum bisa dinilai realisasinya.
Deliver INVEN
INVEN adalah nama sandi untuk sebuah proyek pribadi. Proyek ini tidak diteruskan karena berbagai alasan non-teknis. Wish ini gagal.
Keep wiradikusuma.com up and running
Sekarang gw mulai nge-blog lagi dan mulai memanfaatkan kamera digital built-in 6680 gw. Sayangnya gw masih bingung mau ditaruh dimana blog-blog yang gw buat: blogger, livejournal, friendster atau wiradikusuma.com. Rencana ke depan mungkin menggunakan blog third party (blogger atau livejournal. friendster menyebalkan karena banyak iklan) yang di- feed ke wiradikusuma.com. Kamera digital belum dimanfaatkan untuk merekam gambar accompanying blog. Wish ini 20% terlaksana.
Finish writing book about UML
Gw bahkan belum menyelesaikan bab pertama! Wish ini dikuatirkan gagal. Namun demikian, semoga gw masih punya waktu untuk menulis beberapa artikel lepas. Sekedar “menebus dosa”.. hiks..
Write book about OOAD and/or Java
Tidaaaaaakkk!!!
Write book about advanced Java-related topics
Please stop...!!!
Deliver SEPTERRA stable version
Gw harus mengakui SEPTERRA sudah kandas (lagi). Isu teknis terbesar adalah ketidaktersediaan infrastruktur, tapi aspek non-teknis terparah adalah kemalasan gw. Sangat disayangkan, padahal gw sudah menggembor-gemborkan proyek ini ke banyak orang, termasuk orang-orang di navigasi.net. Account di sourgeforge.net sudah dibuat, dan beberapa orang secara sukarela bergabung. Tapi satu rilis pun tidak pernah muncul.
Beberapa hari lalu gw memang sempat membaca sebuah project open source serupa, dan ini membuat gw kembali menggebu-gebu untuk melanjutkan SEPTERRA. Namun setelah membaca keseluruhan website tersebut, semakin kelihatan kalau sang author ternyata sama seperti gw, hanya bertindak sebatas ide. Wish ini ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan.
Learn Mandarin
Wish ini ditunda untuk tahun depan. Tahun ini adalah tahun programming skill advancement dan health advancement.
Escalate career
Sejauh ini gw banyak belajar hal-hal baru, yang paling signifikan adalah applied knowledge mengenai Ajax, Eclipse, CVS, Subversion dan Maven2 (among others). Secara teknologi memang gw selalu up-to-date, tapi terus terang, sampai saat ini gw masih keteteran mengatur jadwal—bahkan untuk alokasi jam kerja di kantor. Wish ini 40% gw anggap sukses.
Buy camera
Belum, dan mungkin tidak akan terjadi, mengingat kamera built-in 6680 gw masih “cukup”.
Buy new cell phone
Terus terang tadinya gw berpikir tidak akan pernah melakukannya, paling tidak sebelum tengah tahun. Ternyata baru beberapa bulan berjalan (sejak Januari 2006), gw sudah harus melakukannya. Kenapa? Karena alasan yang sangat masuk akal: handphone yang lama hilang. Jatuh dari kantong celana ketika membonceng motor teman. Wish ini dengan bangga gw anggap 100% selesai. Hiks.
Buy notebook
Dulu gw ga pernah niat untuk membeli notebook. Dengan harga yang sama, gw bisa dapat komputer desktop dengan spesifikasi hampir 2 kali lipat. Pikiran gw berubah dengan semakin intensifnya interaksi gw dengan komputer. Bukan karena ketidaktersediaan komputer (sebagian besar hidup gw hanya di kantor dan di rumah, keduanya tersedia komputer), tapi karena gw pengen escape dari ruangan yang (mungkin perasaan gw) mengurung kreativitas. Fleksibilitas juga menjadi alasan. Alangkah enaknya bisa mengetik sambil bersandar di tempat tidur, atau di teras rumah.
Anyway, setelah beberapa waktu lalu berkonsultasi dengan seorang rekan di kantor, wish ini akan ditunda. Alasannya adalah gw masih bekerja di kantor yang mengharapkan kehadiran (physical presence). Keinginan gw untuk mengisi kamar kos (kelak, ketika gw memutuskan untuk kos) dengan notebook mungkin akan diganti dengan desktop bermonitor LCD 17” atau 19”.
Buy motorbike/car
Sejujurnya gw tidak bisa mengendarai motor. Gw bahkan belum pernah mencoba. Selain kedua orang tua yang tidak berminat menyuruh gw belajar (mereka bahkan cenderung melarang, safety issue), gw juga agak males karena takut panas, debu dan rambut acak-acakan. Hehehe...
Tapi belakangan ini hasrat untuk bisa dan punya semakin besar. BBM semakin mahal, jalanan semakin macet, dan satu-satunya mobil di rumah sering dipakai mama. Di rumah sudah ada motor bebek, tapi sebagai pria egois dan keras kepala, gw membutuhkan motor paling tidak sejenis Tiger (dan ini membuat orang tua gw semakin kuatir, berhubung gw suka ngebut naik mobil). Kalau tidak jadi beli motor, ya gw usahakan beli mobil sendiri. Wish ini belum terealisasi.
Buy new glasses
Seharusnya gw sudah beli dari dulu, mengingat gw sudah pakai sejak kelas 2 SMP (dan kacamata pertama itu sekarang kondisinya sangat memprihatinkan), tapi uang gw selalu saja habis. Untung beberapa minggu lalu sepulang dari rumah Boi, gw langsung mampir ke toko kacamata langganan. Mumpung ada uang, begitu pikiran gw waktu itu. Jadilah gw beli.
Bentuknya persegi seperti yang pertama, tapi lebih pipih (lebar lebih panjang, tinggi lebih pendek). Kata teman-teman kantor, gw “sekarang pintarnya terlihat”. Namun sampai sekarang gw masih kurang nyaman memakainya, rasanya ukurannya (minusnya) kurang pas (atau hanya perasaan?). Anyway, wish ini ditutup sampai gw membutuhkan kacamata yang lebih sesuai. Semoga tidak.
Visit dentist regularly
Ah, ini favorit gw. Seperti kebanyakan orang di planet ini, gw memiliki masalah dengan gigi. Sekarang ini 2 dari 6 tambalan gigi (hiks...) gw sudah rusak, sejak hampir satu tahun yang lalu! Bodohnya, sampai sekarang gw belum memulai kunjungan ke dokter gigi sejak terakhir waktu kuliah. Antara malas, mahal (gw yakin, 2 tambahan itu—dan perawatan pendukung lain—akan menghabiskan jutaan!), dan (merasa) belum butuh. Kita lihat nanti bagaimana penyesalan gw. Gw masih mencari proyek jutaan tambahan untuk menutup biaya ke dokter gigi, hehe…
Setelah menjabarkan dan menganalisa satu per satu, terlihat bahwa secara keseluruhan wish list gw baru selesai 25%. Untuk semester mendatang, bisakah gw konsisten dengan apa yang gw resolusikan di awal tahun? Akankah ada kejutan-kejutan positif? Kita tunggu enam bulan lagi. Sementara ini gw akan menjalani hidup dengan prinsip berusaha yang terbaik, era et labora, Soli Deo gloria.