Teman gw pernah bertanya, kenapa ucapan terima kasih (kepada sponsor) dalam setiap announcement gw cenderung melebih-lebihkan. Gw suruh dia baca ulang pelan-pelan, akhirnya dia mengakui bahwa “secara literal ga ada yang salah”, namun dia tetap menganggap gw seperti mempromosikan mereka (pihak yang gw beri ucapan terima kasih).
Gw jelaskan bahwa gw ga ada hubungan dengan mereka (not paid by, not associated with), semua itu murni “wujud terima kasih”. Apa yang salah dengan memberi kredit yang baik?
Acknowledgement adalah harta yang ga akan habis. Just because you “give” someone n amount of credits, doesn’t mean you will “loose” that n amount of credits. Sebaliknya, dengan memberikan acknowledgement yang baik, kita menunjukkan kesungguhan kita dalam menghargai kontribusinya.
“Ya, tapi dia untung dong dapat promosi gratis,” kata teman gw. Gw bilang, “What’s wrong with doing a favor for people? Selama dia layak mendapatkannya, dia layak mendapatkannya.”
Tentu aja, kurang bijaksana juga kalau terlalu “menghamburkan” ucapan terima kasih. Anda tetap ingin setiap ucapan Anda bernilai kan?
Showing posts with label life. Show all posts
Showing posts with label life. Show all posts
Monday, June 02, 2008
Wednesday, January 09, 2008
Nasib buruh rokok karena banjir
Tadi malam gw membaca KOMPAS mengenai banjir di pulau Jawa. Salah satu pabrik sebuah perusahaan rokok terkenal berhenti beroperasi selama 1-2 minggu karena tergenang air, akibatnya ribuan buruh ga mendapat gaji. Mereka dibayar harian, 22 ribu/hari.
Membaca berita itu membuat gw sedih. Gw dan kebanyakan “orang kantoran” umumnya “senang” kalau musibah itu menimpa tempat kami bekerja. Libur, tapi tetap dapat gaji. Buruh-buruh itu hanya mendapat uang kalau bekerja, padahal upah mereka lebih kecil dari biaya transportasi gw per hari.
Gw tahu perusahaan rokok itu sangat besar. Rasanya mereka ga akan rugi meski tetap membayar upah buruhnya (itu hanya salah satu dari 70-an pabrik mereka). Menurut gw ini adalah Corporate Social Responsibility yang sesungguhnya.
We could argue that loyalitas dan produktivitas buruhnya akan meningkat karena diperhatikan oleh perusahaan (dan sebenarnya banyak benefit lain bagi perusahaan). Terlepas dari itu, they could save lives.
For the skeptics: Don’t take my word as is. Bagaimana jika semua pabrik mereka berhenti beroperasi, apakah saran gw tetap berlaku? Not that black and white. Just remember, customer satisfaction comes after employee satisfaction.
Membaca berita itu membuat gw sedih. Gw dan kebanyakan “orang kantoran” umumnya “senang” kalau musibah itu menimpa tempat kami bekerja. Libur, tapi tetap dapat gaji. Buruh-buruh itu hanya mendapat uang kalau bekerja, padahal upah mereka lebih kecil dari biaya transportasi gw per hari.
Gw tahu perusahaan rokok itu sangat besar. Rasanya mereka ga akan rugi meski tetap membayar upah buruhnya (itu hanya salah satu dari 70-an pabrik mereka). Menurut gw ini adalah Corporate Social Responsibility yang sesungguhnya.
We could argue that loyalitas dan produktivitas buruhnya akan meningkat karena diperhatikan oleh perusahaan (dan sebenarnya banyak benefit lain bagi perusahaan). Terlepas dari itu, they could save lives.
For the skeptics: Don’t take my word as is. Bagaimana jika semua pabrik mereka berhenti beroperasi, apakah saran gw tetap berlaku? Not that black and white. Just remember, customer satisfaction comes after employee satisfaction.
Tuesday, January 08, 2008
Being smart+knowledgeable is not enough
Ini terjadi seminggu sebelum liburan Natal. “Thomas, lo dipanggil Pak XXX,” sekretaris CIO di kantor gw bekerja memberi tahu via YM. Beliau yang namanya gw samarkan adalah CEO.
Sebelumnya gw hanya sekali bertemu beliau, sekedar berjabat tangan di hari pertama kerja (nothing special, I shook hands with everybody). Wajar gw bertanya, ada apa gerangan? (atau lebih tepatnya, “Buset, salah apa gw sampai dipanggil CEO?”)
Ternyata gw ditawari jadi manajer sebuah divisi yang akan dibentuk, berkaitan dengan corporate strategy. Divisi ini akan directly reporting to CEO. Gw direkomendasikan oleh beberapa orang di perusahaan (sampai sekarang gw ga tau siapa). Mengingat gw belum dua bulan bekerja, kontrak pula, maka berita ini seperti mendapat durian runtuh. Wow!!! Sayangnya gw ga suka durian.
Don’t get me wrong. Mendengar job desc-nya, gw sangat tertarik. Basically peran gw adalah menjadi jembatan antara kepentingan bisnis dengan kemampuan IT (Information Technology) perusahaan. Sudah menjadi pengetahuan umum, bisnis dan IT hardly on the same page.
Kami berbincang-bincang mengenai beberapa hal, dan kelihatannya beliau tertarik dengan pemikiran-pemikiran gw. FYI, gw mengusung konsep business-driven development dan agile, adaptive development. Pokoknya seru banget deh!
Tapi hari ini gw melihat announcement di e-mail kantor bahwa posisi itu sudah diisi oleh seorang manajer sales. Gw sedih. Bukan karena merasa bodoh, tapi karena merasa dimarjinalkan karena usia dan lama bekerja (bukan pengalaman kerja).
Itu asumsi gw, dengan alasan yang kuat. Di akhir perbincangan gw memberi tahu beliau bahwa gw baru 3 tahun bekerja (gw sudah bekerja sebelum lulus kuliah). Itu membuat beliau kaget, terlebih ketika mendengar usia gw (“Astaga, kamu 14 tahun lebih muda dari saya!”). Setelah itu raut wajah beliau berubah ;-)
Mungkin kalian yang skeptis akan berkata, “Ah bisa aja lo, itu kan baru tawaran. Pede amat lo.” Well, pertama, sebelum menawari gw (“orang baru”), pasti beliau sudah mengevaluasi “orang-orang lama” (pegawai-pegawai senior yang kompeten). Kedua, dari sekian “orang baru”, hanya gw yang ditawari. Ketiga, well... gw ga bisa bilang, pokoknya sama kuat dengan kedua alasan sebelumnya.
Anyway, gw ga mau terlalu larut disini. Life goes on. Soli Deo gloria—To God alone be glory. I'm just an instrument.
Sebelumnya gw hanya sekali bertemu beliau, sekedar berjabat tangan di hari pertama kerja (nothing special, I shook hands with everybody). Wajar gw bertanya, ada apa gerangan? (atau lebih tepatnya, “Buset, salah apa gw sampai dipanggil CEO?”)
Ternyata gw ditawari jadi manajer sebuah divisi yang akan dibentuk, berkaitan dengan corporate strategy. Divisi ini akan directly reporting to CEO. Gw direkomendasikan oleh beberapa orang di perusahaan (sampai sekarang gw ga tau siapa). Mengingat gw belum dua bulan bekerja, kontrak pula, maka berita ini seperti mendapat durian runtuh. Wow!!! Sayangnya gw ga suka durian.
Don’t get me wrong. Mendengar job desc-nya, gw sangat tertarik. Basically peran gw adalah menjadi jembatan antara kepentingan bisnis dengan kemampuan IT (Information Technology) perusahaan. Sudah menjadi pengetahuan umum, bisnis dan IT hardly on the same page.
Kami berbincang-bincang mengenai beberapa hal, dan kelihatannya beliau tertarik dengan pemikiran-pemikiran gw. FYI, gw mengusung konsep business-driven development dan agile, adaptive development. Pokoknya seru banget deh!
Tapi hari ini gw melihat announcement di e-mail kantor bahwa posisi itu sudah diisi oleh seorang manajer sales. Gw sedih. Bukan karena merasa bodoh, tapi karena merasa dimarjinalkan karena usia dan lama bekerja (bukan pengalaman kerja).
Itu asumsi gw, dengan alasan yang kuat. Di akhir perbincangan gw memberi tahu beliau bahwa gw baru 3 tahun bekerja (gw sudah bekerja sebelum lulus kuliah). Itu membuat beliau kaget, terlebih ketika mendengar usia gw (“Astaga, kamu 14 tahun lebih muda dari saya!”). Setelah itu raut wajah beliau berubah ;-)
Mungkin kalian yang skeptis akan berkata, “Ah bisa aja lo, itu kan baru tawaran. Pede amat lo.” Well, pertama, sebelum menawari gw (“orang baru”), pasti beliau sudah mengevaluasi “orang-orang lama” (pegawai-pegawai senior yang kompeten). Kedua, dari sekian “orang baru”, hanya gw yang ditawari. Ketiga, well... gw ga bisa bilang, pokoknya sama kuat dengan kedua alasan sebelumnya.
Anyway, gw ga mau terlalu larut disini. Life goes on. Soli Deo gloria—To God alone be glory. I'm just an instrument.
Monday, December 31, 2007
Wish List 2007 In Review
“In preparing for battle I have always found that plans are useless, but planning is indispensable” — Dwight D. Eisenhower
Itu sebabnya, meski di tahun 2006 lalu keinginan gw banyak yang ga terwujud, gw tetap membuat Wish List 2007. Meski sekarang pun beberapa hal masih ga terwujud, gw tetap puas dengan tahun ini, banyak hal-hal indah yang ga terduga, terjadi. Berikut ini review Wish List 2007 gw:
Refresh wiradikusuma.com and keep it smoking
Belum terwujud. Gw masih menaruh fokus pada blog sebagai digital presence gw.
Buy notebook
Belum terwujud. Sejauh ini notebook yang ada kinerjanya cukup memuaskan. Eits, tapi keinginan gw untuk membelikan Mama sebuah notebook akhirnya terwujud.
Escalate career
Sekarang gw bekerja di sebuah perusahaan mobile content provider. Awalnya gw menolak tawaran mereka karena kuatir conflict of interest dengan freelance job gw di sebuah operator seluler besar. Namun mereka mengatakan itu ga masalah. Oh well, gaji naik, pengalaman bertambah, bekerja di bidang yang gw sukai (mobile). An offer I couldn’t resist.
There’s one caveat though. Mereka menawarkan gw posisi pegawai tetap, tapi karena ga tercapai kesepakatan nilai gaji, akhirnya mereka mengontrak gw untuk 4 bulan (akan selesai awal Maret 2008). Gw ga dapat benefit sebagai karyawan tetap (asuransi, program ownership, dsb), namun dapat gaji yang gw inginkan. It’s a fair trade.
Akan kemana gw di awal Maret (selesai kontrak)? Jawabannya: it depends. Gw percaya rencana yang indah sudah dipersiapkan untuk gw (dan untuk semua orang). I’m too human to comprehend the secret of life, but I do know I must make the most of my talents.
Help Dad's business
Belum terwujud. Papa masih belum menunjukkan minat untuk menggunakan komputer. Bisnis Papa juga sedang stagnan.
Celebrate 25 years of my parents' anniversary
Ga seperti yang diharapkan, tapi gw dan kedua orang tua gw cukup puas dengan hasilnya.
Deliver DEWANTARA
Belum terwujud. Meski demikian, gw cukup puas dengan apa yang gw buat sejauh ini: logo dan Vision. Progress-nya juga lumayan di permodelan domain.
Write a book about anything
Belum terwujud. Menulis buku ternyata lebih sulit dari dugaan awal, apalagi untuk seorang perfeksionis seperti gw.
Write regular articles
Belum terwujud. Disiplin gw masih kurang untuk menulis artikel. Alasannya sederhana: gw seorang procastinator, namun perfeksionis. Kombinasi yang buruk.
Give lecturing
Belum tewujud. Sebenarnya di pertengahan tahun ada seorang kolega yang menawarkan untuk mengajar after office hours, namun lokasinya terlalu jauh dari tempat kerja.
Buy motorbike
Belum terwujud. Gw lebih memilih untuk kos ketimbang menghabiskan waktu di jalan.
Visit dentist regularly
Belum terwujud. Untungnya gigi gw ga bermasalah selama tahun 2007. Terima kasih.
Regularly work out
Belum terwujud. Gw kesulitan menyediakan waktu untuk fitness.
Eat more vegetable, less meat
Belum terwujud. Sulit sekali makan makanan sehat, apalagi sayuran, sewaktu gw kos.
Maintain healthy lifestyle
Meski belum seperti yang gw harapkan, gw cukup puas dengan hasilnya. Paling ga untuk kebanyakan waktu gw berhasil tidur 7-8 jam per hari.
Make commitment in relationship
Terwujud. Gw ga berniat untuk membahas isu ini, terlalu pribadi.
Take my family on a memorable vacation
Selama liburan Natal kemarin kami berlibur di Bandung. Menyenangkan sekali, terlebih melihat wajah bahagia kedua adik gw ketika memoroti keuangan gw ;-) Paling ga ada beberapa belas bukti pembayaran.
Kalau gw menyimpulkan, semua kegagalan itu karena kebodohan gw dalam mengatur prioritas. Gw masih “ga enakan” dan terlalu dikendalikan perasaan. Gw juga terlalu optimis (“Gw bisa kok dalam 1-2 hari”) dan terlalu menyenangkan hati orang lain.
Gw ga menyalahkan siapapun, karena semua kegagalan dan kesuksesan gw adalah akibat dari keputusan-keputusan yang gw ambil (among other things). Untuk tahun 2008, gw akan mengambil sikap lebih disiplin terhadap diri gw. Semoga gw bisa lebih baik lagi. Amin.
Itu sebabnya, meski di tahun 2006 lalu keinginan gw banyak yang ga terwujud, gw tetap membuat Wish List 2007. Meski sekarang pun beberapa hal masih ga terwujud, gw tetap puas dengan tahun ini, banyak hal-hal indah yang ga terduga, terjadi. Berikut ini review Wish List 2007 gw:
Refresh wiradikusuma.com and keep it smoking
Belum terwujud. Gw masih menaruh fokus pada blog sebagai digital presence gw.
Buy notebook
Belum terwujud. Sejauh ini notebook yang ada kinerjanya cukup memuaskan. Eits, tapi keinginan gw untuk membelikan Mama sebuah notebook akhirnya terwujud.
Escalate career
Sekarang gw bekerja di sebuah perusahaan mobile content provider. Awalnya gw menolak tawaran mereka karena kuatir conflict of interest dengan freelance job gw di sebuah operator seluler besar. Namun mereka mengatakan itu ga masalah. Oh well, gaji naik, pengalaman bertambah, bekerja di bidang yang gw sukai (mobile). An offer I couldn’t resist.
There’s one caveat though. Mereka menawarkan gw posisi pegawai tetap, tapi karena ga tercapai kesepakatan nilai gaji, akhirnya mereka mengontrak gw untuk 4 bulan (akan selesai awal Maret 2008). Gw ga dapat benefit sebagai karyawan tetap (asuransi, program ownership, dsb), namun dapat gaji yang gw inginkan. It’s a fair trade.
Akan kemana gw di awal Maret (selesai kontrak)? Jawabannya: it depends. Gw percaya rencana yang indah sudah dipersiapkan untuk gw (dan untuk semua orang). I’m too human to comprehend the secret of life, but I do know I must make the most of my talents.
Help Dad's business
Belum terwujud. Papa masih belum menunjukkan minat untuk menggunakan komputer. Bisnis Papa juga sedang stagnan.
Celebrate 25 years of my parents' anniversary
Ga seperti yang diharapkan, tapi gw dan kedua orang tua gw cukup puas dengan hasilnya.
Deliver DEWANTARA
Belum terwujud. Meski demikian, gw cukup puas dengan apa yang gw buat sejauh ini: logo dan Vision. Progress-nya juga lumayan di permodelan domain.
Write a book about anything
Belum terwujud. Menulis buku ternyata lebih sulit dari dugaan awal, apalagi untuk seorang perfeksionis seperti gw.
Write regular articles
Belum terwujud. Disiplin gw masih kurang untuk menulis artikel. Alasannya sederhana: gw seorang procastinator, namun perfeksionis. Kombinasi yang buruk.
Give lecturing
Belum tewujud. Sebenarnya di pertengahan tahun ada seorang kolega yang menawarkan untuk mengajar after office hours, namun lokasinya terlalu jauh dari tempat kerja.
Buy motorbike
Belum terwujud. Gw lebih memilih untuk kos ketimbang menghabiskan waktu di jalan.
Visit dentist regularly
Belum terwujud. Untungnya gigi gw ga bermasalah selama tahun 2007. Terima kasih.
Regularly work out
Belum terwujud. Gw kesulitan menyediakan waktu untuk fitness.
Eat more vegetable, less meat
Belum terwujud. Sulit sekali makan makanan sehat, apalagi sayuran, sewaktu gw kos.
Maintain healthy lifestyle
Meski belum seperti yang gw harapkan, gw cukup puas dengan hasilnya. Paling ga untuk kebanyakan waktu gw berhasil tidur 7-8 jam per hari.
Make commitment in relationship
Terwujud. Gw ga berniat untuk membahas isu ini, terlalu pribadi.
Take my family on a memorable vacation
Selama liburan Natal kemarin kami berlibur di Bandung. Menyenangkan sekali, terlebih melihat wajah bahagia kedua adik gw ketika memoroti keuangan gw ;-) Paling ga ada beberapa belas bukti pembayaran.
Kalau gw menyimpulkan, semua kegagalan itu karena kebodohan gw dalam mengatur prioritas. Gw masih “ga enakan” dan terlalu dikendalikan perasaan. Gw juga terlalu optimis (“Gw bisa kok dalam 1-2 hari”) dan terlalu menyenangkan hati orang lain.
Gw ga menyalahkan siapapun, karena semua kegagalan dan kesuksesan gw adalah akibat dari keputusan-keputusan yang gw ambil (among other things). Untuk tahun 2008, gw akan mengambil sikap lebih disiplin terhadap diri gw. Semoga gw bisa lebih baik lagi. Amin.
Friday, December 28, 2007
Wish List 2008
Melanjutkan tradisi yang sudah gw lakukan dalam dua tahun terakhir, berikut ini daftar keinginan gw di tahun 2008, ga dalam pengurutan apapun:
Maintain balance in my Life Balance
Gw sudah membuat Life Balance, a list of things that matter in 2008. Gw ingin disiplin mengikuti pedoman tersebut, tentunya dengan fleksibilitas.
Buy new glasses or contact lenses
Sudah saatnya ganti kacamata. Gw memikirkan lensa kontak sebagai alternatif.
Buy SLR digital camera
Gw hobi fotografi, dan berpikir untuk membawanya ke tingkat yang lebih serius. Gw berencana membeli Canon EOS 400D, entry level SLR digital camera.
Bring up wiradikusuma.com
Menyedihkan sekali, website yang seharusnya menjadi digital presence and portfolio gw malah terlantar. Gw akan meluangkan waktu untuk menghidupkan kembali wiradikusuma.com.
Buy new notebook
Gw merasa kebutuhan computing gw semakin berat. Untuk saat ini, gw naksir laptop apapun dengan kriteria minimal sebagai berikut: Intel Core 2 Duo T7500 2 GHz, 4 MB L2 cache, 2 GB DDR2 RAM, 160 GB HDD, wide-screen LCD 13” – 15”, a descent graphics accelerator, DVD-RAM, and weigh less than 6 lbs. I’ll go for any brand with the specs I desire and the price under US$ 1200.
Escalate career
Mengutip Wish List 2007: Selama gw masih (mampu) bekerja, selama itu pula gw akan terus berusaha menjadi lebih baik. Secara high level, gw mengharapkan perkembangan diri seperti intelektualitas yang lebih terasah, proficiency yang lebih tajam di bidang yang gw tekuni dan kemungkinan penjajakan wilayah keilmuan baru. Gw mengharapkan aktualisasi diri yang lebih baik dan tentunya pendapatan yang lebih besar.
Help my family better utilize the computer
Gw ingin membantu Papa menggunakan e-mail, menulis blog dan mencari informasi di Internet. Gw ingin membantu Mama doing more advanced tasks seperti menggunakan scanner dan membakar CD. Gw juga ingin mengajarkan kedua adik gw pengetahuan baru seperti image retouching dan desktop publishing dan bisa membantu Mama dan Papa dalam mengoperasikan komputer.
Give more attention to my family
Gw sadar selama ini kurang memberikan perhatian ke keluarga gw. Of course, I work very hard to make money for them, but my attention is something they need more. Gw peduli dengan perkembangan kedua adik gw, dan gw akan senang menjadi tempat “curhatan” mereka. Intinya, gw ingin menjadi seorang anak dan kakak yang lebih baik.
Selain itu, gw ingin lebih sering makan keluar bersama keluarga, dan sesekali memberikan hadiah kecil untuk mereka.
Go to Padang with my family on a vacation
Biasanya kami berlibur ke Bandung atau kadang-kadang ke Gombong, keduanya “daerah” Papa. Mama ingin sesekali kami pergi ke Padang, ke kampung halamannya. Gw akan menyediakan waktu dan biaya untuk tujuan ini.
Renovate house
Rencananya renovasi rumah akan dilakukan pada akhir tahun 2007, tapi terpaksa ditunda karena musim hujan. Gw berharap dengan “wajah” baru, rumah gw jadi lebih rapi.
Learn another foreign language
Saat ini gw hanya bisa Bahasa Inggris. Gw tertarik untuk belajar bahasa asing lain. Dengan belajar bahasa, kita belajar kebudayaan dari bangsa yang menggunakan bahasa itu. Dengan belajar kebudayaan, kita lebih menghargai keberagaman.
Wish list dibawah ini gw salin langsung dari Wish List 2007, karena isinya sama (kata-kata mungkin berubah sedikit menyesuaikan konteks):
Deliver DEWANTARA
Dewantara adalah sebuah proyek open source school/student information system. Pengembangan Dewantara harusnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2006. Tapi karena kesibukan yang luar biasa (sampai lupa mencukur jenggot sehingga mirip The Beegees. Keren), gw menundanya terus.
Write a book about anything
Gw tetap ingin menulis buku, tapi kali ini gw lebih realistis. Gw ga akan menyebut topik karena itu akan berubah. Gw percaya yang gw buat nanti baik. “Teknik menggaet wanita” juga baik kok.
Write regular articles
Obsesi gw adalah menjadi kolumnis di media berita populer. Itu sebabnya gw mulai rajin menghidupkan blog ini, hitung-hitung sebagai ajang latihan dan unjuk gigi (kalian ga benar-benar melihat gigi gw disini, ini ungkapan). Kita lihat sejauh mana gw bisa mewujudkan obsesi ini.
Give lecturing
Percaya atau tidak, mengajar—terutama menjadi dosen, meski paruh waktu—adalah salah satu impian gw sejak dulu (sebenarnya gw ingin jadi astronot, tapi itu sebelum gigi gw berlubang). It's fun to share knowledge dan melihat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain. Sebelum lulus kuliah gw pernah mencoba kemungkinan mengajar di IBII (begini kan tulisannya?), tapi mereka mensyaratkan S2. Gw penasaran kenapa wajah imut gw ga membantu.
Buy motorbike
Psst.. sampai detik ini gw belum bisa naik motor lho! Tapi jangan kuatir, gw akan serius belajar mendekati tanggal pembelian. Kapan ya?
Oh ya, sepertinya gw akan membeli Honda Vario (atau sejenis yang automatic). Gw sangat sangat sangat menginginkan “motor cowok”, tapi karena pertimbangan utilisasi (Mama dan adik-adik gw bisa pakai kalau perlu) gw tetap memilih motor bebek.
Visit dentist regularly
Semoga bukan karena gigi gw tiba-tiba bermasalah di tahun 2008!
Regularly work out
Gw belum pernah ikut fitness (habis ga ada mau gw ajak), tapi gw kadang (ga terlalu sering sih) berenang, jogging dan olahraga di rumah (push-up, sit-up, etc). Kalian boleh ga percaya, tapi dulu perut gw six pack bro! Itu waktu gw SMA dan awal-awal kuliah.. :-D
Sekarang gw mau meremajakan diri lagi. Gw akan berusaha rutin olahraga, kalau perlu ikut fitness. Seperti kata semboyan, “Di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat” (hmm.. jadi selama ini pikiran gw ngeres karena..).
Eat more vegetable, less meat
Penelitian menunjukkan bahwa orang ber-IQ tinggi di waktu kecil cenderung menjadi vegetarian ketika dewasa. Hmm.. orang akan berpikir gw jenius ketika melihat gw makan sayuran. Keren.
Maintain healthy lifestyle
Kalian yang mengenal gw pasti tahu kebiasaan makan gw: (banyak) minum air putih, ga makan yang manis, sebisa mungkin makan sayur. Gw mau mempertahankan semua kebiasaan baik itu.
Gw juga akan meningkatkan intensitas olahraga gw, mengurangi kebiasaan bobo terlalu malam, dan yang terpenting.. patuh pada agenda yang gw buat!
Maintain commitment in relationship
Gw lagi belajar untuk ini. Bagaimana caranya menunjukkan rasa sayang tanpa menyakiti orang yang kita sayang?
Maintain balance in my Life Balance
Gw sudah membuat Life Balance, a list of things that matter in 2008. Gw ingin disiplin mengikuti pedoman tersebut, tentunya dengan fleksibilitas.

Buy new glasses or contact lenses
Sudah saatnya ganti kacamata. Gw memikirkan lensa kontak sebagai alternatif.
Buy SLR digital camera
Gw hobi fotografi, dan berpikir untuk membawanya ke tingkat yang lebih serius. Gw berencana membeli Canon EOS 400D, entry level SLR digital camera.
Bring up wiradikusuma.com
Menyedihkan sekali, website yang seharusnya menjadi digital presence and portfolio gw malah terlantar. Gw akan meluangkan waktu untuk menghidupkan kembali wiradikusuma.com.
Buy new notebook
Gw merasa kebutuhan computing gw semakin berat. Untuk saat ini, gw naksir laptop apapun dengan kriteria minimal sebagai berikut: Intel Core 2 Duo T7500 2 GHz, 4 MB L2 cache, 2 GB DDR2 RAM, 160 GB HDD, wide-screen LCD 13” – 15”, a descent graphics accelerator, DVD-RAM, and weigh less than 6 lbs. I’ll go for any brand with the specs I desire and the price under US$ 1200.
Escalate career
Mengutip Wish List 2007: Selama gw masih (mampu) bekerja, selama itu pula gw akan terus berusaha menjadi lebih baik. Secara high level, gw mengharapkan perkembangan diri seperti intelektualitas yang lebih terasah, proficiency yang lebih tajam di bidang yang gw tekuni dan kemungkinan penjajakan wilayah keilmuan baru. Gw mengharapkan aktualisasi diri yang lebih baik dan tentunya pendapatan yang lebih besar.Help my family better utilize the computer
Gw ingin membantu Papa menggunakan e-mail, menulis blog dan mencari informasi di Internet. Gw ingin membantu Mama doing more advanced tasks seperti menggunakan scanner dan membakar CD. Gw juga ingin mengajarkan kedua adik gw pengetahuan baru seperti image retouching dan desktop publishing dan bisa membantu Mama dan Papa dalam mengoperasikan komputer.
Give more attention to my family
Gw sadar selama ini kurang memberikan perhatian ke keluarga gw. Of course, I work very hard to make money for them, but my attention is something they need more. Gw peduli dengan perkembangan kedua adik gw, dan gw akan senang menjadi tempat “curhatan” mereka. Intinya, gw ingin menjadi seorang anak dan kakak yang lebih baik.
Selain itu, gw ingin lebih sering makan keluar bersama keluarga, dan sesekali memberikan hadiah kecil untuk mereka.
Go to Padang with my family on a vacation
Biasanya kami berlibur ke Bandung atau kadang-kadang ke Gombong, keduanya “daerah” Papa. Mama ingin sesekali kami pergi ke Padang, ke kampung halamannya. Gw akan menyediakan waktu dan biaya untuk tujuan ini.
Renovate house
Rencananya renovasi rumah akan dilakukan pada akhir tahun 2007, tapi terpaksa ditunda karena musim hujan. Gw berharap dengan “wajah” baru, rumah gw jadi lebih rapi.

Learn another foreign language
Saat ini gw hanya bisa Bahasa Inggris. Gw tertarik untuk belajar bahasa asing lain. Dengan belajar bahasa, kita belajar kebudayaan dari bangsa yang menggunakan bahasa itu. Dengan belajar kebudayaan, kita lebih menghargai keberagaman.
Wish list dibawah ini gw salin langsung dari Wish List 2007, karena isinya sama (kata-kata mungkin berubah sedikit menyesuaikan konteks):
Deliver DEWANTARA
Dewantara adalah sebuah proyek open source school/student information system. Pengembangan Dewantara harusnya sudah dimulai sejak akhir tahun 2006. Tapi karena kesibukan yang luar biasa (sampai lupa mencukur jenggot sehingga mirip The Beegees. Keren), gw menundanya terus.
Write a book about anything
Gw tetap ingin menulis buku, tapi kali ini gw lebih realistis. Gw ga akan menyebut topik karena itu akan berubah. Gw percaya yang gw buat nanti baik. “Teknik menggaet wanita” juga baik kok.
Write regular articles
Obsesi gw adalah menjadi kolumnis di media berita populer. Itu sebabnya gw mulai rajin menghidupkan blog ini, hitung-hitung sebagai ajang latihan dan unjuk gigi (kalian ga benar-benar melihat gigi gw disini, ini ungkapan). Kita lihat sejauh mana gw bisa mewujudkan obsesi ini.
Give lecturing
Percaya atau tidak, mengajar—terutama menjadi dosen, meski paruh waktu—adalah salah satu impian gw sejak dulu (sebenarnya gw ingin jadi astronot, tapi itu sebelum gigi gw berlubang). It's fun to share knowledge dan melihat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain. Sebelum lulus kuliah gw pernah mencoba kemungkinan mengajar di IBII (begini kan tulisannya?), tapi mereka mensyaratkan S2. Gw penasaran kenapa wajah imut gw ga membantu.Buy motorbike
Psst.. sampai detik ini gw belum bisa naik motor lho! Tapi jangan kuatir, gw akan serius belajar mendekati tanggal pembelian. Kapan ya?
Oh ya, sepertinya gw akan membeli Honda Vario (atau sejenis yang automatic). Gw sangat sangat sangat menginginkan “motor cowok”, tapi karena pertimbangan utilisasi (Mama dan adik-adik gw bisa pakai kalau perlu) gw tetap memilih motor bebek.
Visit dentist regularly
Semoga bukan karena gigi gw tiba-tiba bermasalah di tahun 2008!
Regularly work out
Gw belum pernah ikut fitness (habis ga ada mau gw ajak), tapi gw kadang (ga terlalu sering sih) berenang, jogging dan olahraga di rumah (push-up, sit-up, etc). Kalian boleh ga percaya, tapi dulu perut gw six pack bro! Itu waktu gw SMA dan awal-awal kuliah.. :-D
Sekarang gw mau meremajakan diri lagi. Gw akan berusaha rutin olahraga, kalau perlu ikut fitness. Seperti kata semboyan, “Di dalam tubuh yang sehat terdapat pikiran yang sehat” (hmm.. jadi selama ini pikiran gw ngeres karena..).
Eat more vegetable, less meat
Penelitian menunjukkan bahwa orang ber-IQ tinggi di waktu kecil cenderung menjadi vegetarian ketika dewasa. Hmm.. orang akan berpikir gw jenius ketika melihat gw makan sayuran. Keren.
Maintain healthy lifestyle
Kalian yang mengenal gw pasti tahu kebiasaan makan gw: (banyak) minum air putih, ga makan yang manis, sebisa mungkin makan sayur. Gw mau mempertahankan semua kebiasaan baik itu.

Gw juga akan meningkatkan intensitas olahraga gw, mengurangi kebiasaan bobo terlalu malam, dan yang terpenting.. patuh pada agenda yang gw buat!
Maintain commitment in relationship
Gw lagi belajar untuk ini. Bagaimana caranya menunjukkan rasa sayang tanpa menyakiti orang yang kita sayang?
Saturday, December 08, 2007
Tidak putih, tidak dapat cinta sejati
Barusan gw menonton acara Pond’s 7 Hari Menemukan Cinta (atau apalah namanya) di Trans TV. Gw sampai SMS send-to-many ke beberapa teman (mereka menyebutnya, “mailing list sms”), “Nonton Trans TV sekarang. Banyak cewek local cantik. Pond’s.”
Despite hiburan mata yang gw dapat, the show made me raise a question. Jadi, cinta itu hanya untuk cewek yang putih (dan bertubuh aduhai dengan wajah cantik)? Soalnya salah satu cerita di acara itu mengisahkan seorang cewek yang jadian lagi sama mantannya. Sang cowok sudah punya pacar, tapi karena mereka cekcok, cowok itu naksir cewek putih yang ternyata mantannya. Coba kalo mantannya tetep item, trus gemuk dan suka ngupil, pasti cintanya ga balik lagi.
Itu sebabnya sekarang banyak cewek berlomba-lomba untuk memperputih dirinya. Dengan kosmetik, bedak, dedak, tepung, formalin, kapur, anything yang penting jadi putih. Beberapa jam sebelumnya gw menonton investigasi pemalsuan produk kosmetik pemutih. Supply and demand. Ga heran produk pemutih dipalsukan.
Berusaha menjadi lebih baik itu bagus (ga berarti gw mendukung “cantik itu putih” lho, tapi gw mendukung, “lakukanlah apa yang menurutmu baik”), tapi lakukanlah secara bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian.
Despite hiburan mata yang gw dapat, the show made me raise a question. Jadi, cinta itu hanya untuk cewek yang putih (dan bertubuh aduhai dengan wajah cantik)? Soalnya salah satu cerita di acara itu mengisahkan seorang cewek yang jadian lagi sama mantannya. Sang cowok sudah punya pacar, tapi karena mereka cekcok, cowok itu naksir cewek putih yang ternyata mantannya. Coba kalo mantannya tetep item, trus gemuk dan suka ngupil, pasti cintanya ga balik lagi.
Itu sebabnya sekarang banyak cewek berlomba-lomba untuk memperputih dirinya. Dengan kosmetik, bedak, dedak, tepung, formalin, kapur, anything yang penting jadi putih. Beberapa jam sebelumnya gw menonton investigasi pemalsuan produk kosmetik pemutih. Supply and demand. Ga heran produk pemutih dipalsukan.
Berusaha menjadi lebih baik itu bagus (ga berarti gw mendukung “cantik itu putih” lho, tapi gw mendukung, “lakukanlah apa yang menurutmu baik”), tapi lakukanlah secara bertanggung jawab dan penuh kehati-hatian.
Sunday, September 30, 2007
Solidarity for Myanmar protesters
If you've been following international news recently, you're aware that Myanmar is under constant chaos. Military junta is pressing protesters really hard, and activities within the country are far from conducive.
AFAIK, protesters initially fought for unreasonably high oil price, but now they fought for something even bigger: democracy. I therefore support them morally for their courage. If you share the same sympathy, please link this banner in your website, blog and/or community forums and speak your opinion about the issue. Digging this post will also help. We may not win against military weapons, but spreading words will rise public awareness up to something concrete.

AFAIK, protesters initially fought for unreasonably high oil price, but now they fought for something even bigger: democracy. I therefore support them morally for their courage. If you share the same sympathy, please link this banner in your website, blog and/or community forums and speak your opinion about the issue. Digging this post will also help. We may not win against military weapons, but spreading words will rise public awareness up to something concrete.
Wednesday, June 20, 2007
7 reasons NOT to have hot girlfriend
A friend of mine asked me whether he should look for hotter chicks. I said that there are some caveats when he decides to have one. Here’s a list I gave him, in no particular order:
My friend decided to stick with his current girlfriend and have occasional no-commitment-relationship with hotter chicks. Wise choice.
- High maintenance cost The hotter the chick, the higher cost to maintain her "hotness". Just like expensive cars, hotter chicks tend to spend more on maintenance and accessories.
- The bigger her boobs (or the more beautiful she is), the smaller her brain Hot chicks are not conditioned for rough environment. They usually get "special treatment" so they’re not challenged to sharpen their skill/intelligence. There are always dickheads who'll be more than happy to help them.
- High ego Since they know their "competitive advantage"-ness, they can be emotionally irritating. They ask too much but they do less. They are picky, stubborn and selfish. Unfortunately you can’t do a thing. It’s a take it or leave her.
- High level of jealously Not her being jealous, but you. Dickheads are everywhere like hungry wolves. Off a bit and you have your girl being teased by somebody.
- Low level of loyalty Since hot chicks have better options when it comes to choosing partner, they tend to take commitment too lightly. You’ll be reluctant to hard on her because she might leave you in an instant.
- Can’t live life the hard way There are ups and downs happening throughout life. Sometimes we’re under, financially speaking. Hot chicks are not comfortable hanging out with poor guy (even though they are not rich himself!) and will find greener hill.
- Higher tendency to have sex This is you. The hotter chick you have, the more likely you want to have sex with her. It’s OK if she enjoys it, but she’ll leave you ASAP if she doesn’t because she will think you’re a maniac (you ARE, she IS hot).
My friend decided to stick with his current girlfriend and have occasional no-commitment-relationship with hotter chicks. Wise choice.
Sunday, June 03, 2007
Summoning the dead
PERHATIAN: Isi blog ini murni opini dan mungkin bertentangan dengan konsep/keyakinan yang Anda anut.

Selama ini batin gw mempertentangkan salah satu kemampuan papa dalam kapasitasnya sebagai penghayat—memanggil arwah. Bukannya gw ga percaya, tapi konsep yang gw anut berlawanan.
Beberapa tahun lalu gw pernah membaca buku tentang arwah. Disitu diceritakan bahwa orang yang baru meninggal ga langsung ke “surga atau neraka”, namun di “dunia tengah-tengah” (kecuali mereka benar-benar suci atau benar-benar bedebah, dimana mereka akan straight to heaven or to hell, respectively). Di dunia itulah mereka dibersihkan sehingga layak menghadap Sang Pencipta.
Di buku itu dikatakan, semua orang di “dunia tengah” pada akhirnya akan masuk surga, namun seberapa cepat mereka kesana sangat tergantung dari deeds (baik dan buruk) yang mereka lakukan semasa hidup dan doa dari mereka yang masih hidup. Ini menjelaskan kenapa kita sangat diharapkan untuk berdoa kepada leluhur.
Doa kita sebenarnya untuk membantu mereka, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, kurang tepat kalau kita minta tolong kepada arwah. Mintalah kepada Sang Pecipta—Beliau yang menciptakan arwah yang kita mintai tolong. Kalaupun mau minta tolong, menurut gw mintalah agar permohonan kita dibantu disampaikan ke Sang Pecipta (secara “jarak” pun, leluhur kita lebih dekat dengan Beliau kan?).
Pembaca yang kritis akan menyerang gw dengan pernyataan, “Enak banget semua masuk surga. Kalau begitu gw santai-santai aja.” Memang ada konsep yang mengatakan di “dunia tengah” arwah bisa gagal dan bisa gugur. Kalau menurut gw itu aneh. Kenapa? Kriteria apa yang menentukan gagal/gugur? Amal perbuatan? Kalau begitu “dunia tengah” ga diperlukan. Begitu seseorang meninggal, langsung aja masuk surga/neraka (buat apa diperlama, toh sudah ketahuan hasilnya).
Lalu apakah dengan demikian kita bisa “bebas”? Menurut gw itu pikiran yang bodoh. Kalau bisa “curi start” (dengan berbuat baik sebanyak-banyaknya sewaktu masih hidup), kenapa ga kita lakukan? Seperti ayah dan ibu kita: Sebrengsek apapun kita masih tetap diaku anak, namun apakah kita mau begitu?
Kembali ke “dunia tengah”, arwah disitu bisa dipanggil oleh mereka yang masih hidup untuk dimintai bantuan. Ini mencederai mereka, karena sebenarnya mereka sedang “sibuk membersihkan diri”. Disinilah manusia yang masih hidup dinilai moralnya, apakah tahu diri untuk ga meng-abuse arwah (kalian ga mau diperlakukan demikian ketika nanti menjadi arwah kan?). Jangan lupa untuk mendoakan mereka.
Nah, setelah bersih dan masuk ke surga, ga ada siapapun di dunia yang sanggup memanggil arwah yang dimaksud. Logika yang sederhana, sekuat apa sih manusia sehingga mampu menyuruh penghuni surga untuk turun ke dunia?
Andai pun bisa, sang arwah sendiri juga ga berniat kembali ke dunia. Logika yang sederhana juga, kalau kita sudah ada di surga (tempat yang sempurna), buat apa repot-repot kembali ke dunia (tempat yang jauh dari sempurna). Ketika arwah meninggal, dia meninggalkan juga attachment-nya dengan dunianya: keluarga, harta, hutang, kejayaan, masalah dan sebagainya. Dia hanya akan fokus ke satu hal: bagaimana secepatnya kembali ke Sang Pencipta.

Disini letak perbedaan pendapat gw dengan papa. Papa pernah bilang bahwa semua arwah bisa dipanggil (secara implisit mengatakan, “termasuk yang di surga”). Gw ga setuju.
Namun tadi siang, saat kami ziarah ke makam kakek dan nenek (mereka dimakamkan di satu makam), papa berkata, “Papa ga bisa memanggil Engkong (kakek) lagi. Beliau sudah di tempat yang jauh. Beliau sudah sempurna.”
Gw senang mendengarnya. Bukan karena papa akhirnya mengakui konsep gw, tapi karena mendengar Engkong sudah nyaman di sana.

Selama ini batin gw mempertentangkan salah satu kemampuan papa dalam kapasitasnya sebagai penghayat—memanggil arwah. Bukannya gw ga percaya, tapi konsep yang gw anut berlawanan.
Beberapa tahun lalu gw pernah membaca buku tentang arwah. Disitu diceritakan bahwa orang yang baru meninggal ga langsung ke “surga atau neraka”, namun di “dunia tengah-tengah” (kecuali mereka benar-benar suci atau benar-benar bedebah, dimana mereka akan straight to heaven or to hell, respectively). Di dunia itulah mereka dibersihkan sehingga layak menghadap Sang Pencipta.
Di buku itu dikatakan, semua orang di “dunia tengah” pada akhirnya akan masuk surga, namun seberapa cepat mereka kesana sangat tergantung dari deeds (baik dan buruk) yang mereka lakukan semasa hidup dan doa dari mereka yang masih hidup. Ini menjelaskan kenapa kita sangat diharapkan untuk berdoa kepada leluhur.
Doa kita sebenarnya untuk membantu mereka, bukan sebaliknya. Dengan kata lain, kurang tepat kalau kita minta tolong kepada arwah. Mintalah kepada Sang Pecipta—Beliau yang menciptakan arwah yang kita mintai tolong. Kalaupun mau minta tolong, menurut gw mintalah agar permohonan kita dibantu disampaikan ke Sang Pecipta (secara “jarak” pun, leluhur kita lebih dekat dengan Beliau kan?).
Pembaca yang kritis akan menyerang gw dengan pernyataan, “Enak banget semua masuk surga. Kalau begitu gw santai-santai aja.” Memang ada konsep yang mengatakan di “dunia tengah” arwah bisa gagal dan bisa gugur. Kalau menurut gw itu aneh. Kenapa? Kriteria apa yang menentukan gagal/gugur? Amal perbuatan? Kalau begitu “dunia tengah” ga diperlukan. Begitu seseorang meninggal, langsung aja masuk surga/neraka (buat apa diperlama, toh sudah ketahuan hasilnya).
Lalu apakah dengan demikian kita bisa “bebas”? Menurut gw itu pikiran yang bodoh. Kalau bisa “curi start” (dengan berbuat baik sebanyak-banyaknya sewaktu masih hidup), kenapa ga kita lakukan? Seperti ayah dan ibu kita: Sebrengsek apapun kita masih tetap diaku anak, namun apakah kita mau begitu?
Kembali ke “dunia tengah”, arwah disitu bisa dipanggil oleh mereka yang masih hidup untuk dimintai bantuan. Ini mencederai mereka, karena sebenarnya mereka sedang “sibuk membersihkan diri”. Disinilah manusia yang masih hidup dinilai moralnya, apakah tahu diri untuk ga meng-abuse arwah (kalian ga mau diperlakukan demikian ketika nanti menjadi arwah kan?). Jangan lupa untuk mendoakan mereka.
Nah, setelah bersih dan masuk ke surga, ga ada siapapun di dunia yang sanggup memanggil arwah yang dimaksud. Logika yang sederhana, sekuat apa sih manusia sehingga mampu menyuruh penghuni surga untuk turun ke dunia?
Andai pun bisa, sang arwah sendiri juga ga berniat kembali ke dunia. Logika yang sederhana juga, kalau kita sudah ada di surga (tempat yang sempurna), buat apa repot-repot kembali ke dunia (tempat yang jauh dari sempurna). Ketika arwah meninggal, dia meninggalkan juga attachment-nya dengan dunianya: keluarga, harta, hutang, kejayaan, masalah dan sebagainya. Dia hanya akan fokus ke satu hal: bagaimana secepatnya kembali ke Sang Pencipta.

Disini letak perbedaan pendapat gw dengan papa. Papa pernah bilang bahwa semua arwah bisa dipanggil (secara implisit mengatakan, “termasuk yang di surga”). Gw ga setuju.
Namun tadi siang, saat kami ziarah ke makam kakek dan nenek (mereka dimakamkan di satu makam), papa berkata, “Papa ga bisa memanggil Engkong (kakek) lagi. Beliau sudah di tempat yang jauh. Beliau sudah sempurna.”
Gw senang mendengarnya. Bukan karena papa akhirnya mengakui konsep gw, tapi karena mendengar Engkong sudah nyaman di sana.
Sunday, May 13, 2007
Half filled glass
Beberapa waktu lalu gw naik bis jurusan Tangerang – Grogol. Ada pengamen yang nyanyi dengan gaya bercerita, intinya lagunya adalah—to my opinion—“mengeluh”.
Korupsi yang merajalela, tikus-tikus gemuk di pemerintahan, orang kaya yang semakin kaya dan orang miskin yang semakin miskin, pengangguran, harga barang yang semakin mahal, dan hal-hal “tipikal” lain. Bukan pertama kalinya gw dengar lagu seperti ini. Dan kalau mau jujur, memang seperti itulah keadaan negara kita sekarang.
Lalu tiba-tiba gw ingat dengan konsep “half filled glass”, dimana orang melihat gelas bisa setengah kosong atau setengah terisi, tergantung perspektifnya. Lagu yang dibawakan pengamen tadi masuk perspektif “gelas yang kosong setengah”.
Kalau gw pribadi, gw cenderung melihat sesuatu (termasuk masalah di negara kita) sebagai setengah penuh. We’re sucks, I know, but we’re progressing for betterment. Mungkin kata-kata gw terdengar politis, tapi menurut gw itu namanya optimis.
Seorang teman memberikan pemikiran yang bagus. Dia bilang, “Dari dulu sampai sekarang, yang namanya korupsi, illegal logging, human trafficking, penggelapan pajak, kemiskinan, perang, kemerosotan moral, dsb dsb bukannya berkurang tapi bertambah. Kalo lo ga optimis, lo bisa gila.”
He’s got a point. Daripada mengurusi (baca: mengeluh) yang sudah/sedang terjadi dan ga berbuat apa-apa (selain mengeluh), lebih baik put your effort to make change. Kalau kita ga bisa mengubah orang lain (dan biasanya memang sangat sulit), ubahlah diri kita sendiri. Kalau semua orang melakukannya, ga ada yang perlu repot mengubah orang lain.
Tentu saja untuk berubah dibutuhkan niat. Dan niat diawali dengan optimisme. Mulailah dengan melihat gelas setengah penuh.
Korupsi yang merajalela, tikus-tikus gemuk di pemerintahan, orang kaya yang semakin kaya dan orang miskin yang semakin miskin, pengangguran, harga barang yang semakin mahal, dan hal-hal “tipikal” lain. Bukan pertama kalinya gw dengar lagu seperti ini. Dan kalau mau jujur, memang seperti itulah keadaan negara kita sekarang.
Lalu tiba-tiba gw ingat dengan konsep “half filled glass”, dimana orang melihat gelas bisa setengah kosong atau setengah terisi, tergantung perspektifnya. Lagu yang dibawakan pengamen tadi masuk perspektif “gelas yang kosong setengah”.
Kalau gw pribadi, gw cenderung melihat sesuatu (termasuk masalah di negara kita) sebagai setengah penuh. We’re sucks, I know, but we’re progressing for betterment. Mungkin kata-kata gw terdengar politis, tapi menurut gw itu namanya optimis.
Seorang teman memberikan pemikiran yang bagus. Dia bilang, “Dari dulu sampai sekarang, yang namanya korupsi, illegal logging, human trafficking, penggelapan pajak, kemiskinan, perang, kemerosotan moral, dsb dsb bukannya berkurang tapi bertambah. Kalo lo ga optimis, lo bisa gila.”
He’s got a point. Daripada mengurusi (baca: mengeluh) yang sudah/sedang terjadi dan ga berbuat apa-apa (selain mengeluh), lebih baik put your effort to make change. Kalau kita ga bisa mengubah orang lain (dan biasanya memang sangat sulit), ubahlah diri kita sendiri. Kalau semua orang melakukannya, ga ada yang perlu repot mengubah orang lain.
Tentu saja untuk berubah dibutuhkan niat. Dan niat diawali dengan optimisme. Mulailah dengan melihat gelas setengah penuh.
Subscribe to:
Posts (Atom)



