Di status Facebook gw pernah menulis bahwa Stardust adalah salah satu film favorit gw. Selain Stardust, gw juga suka Jumper, trilogi Bourne dan trilogi Lord of The Rings. Apa yang menjadikan mereka favorit gw? Mereka film petualangan. Tapi lebih dari itu, mereka mengajarkan gw untuk berani keluar dari zona aman untuk meraih sukses.
Keluar dari zona aman. Kadang istilah ini harus diartikan secara harafiah: keluar dari tempat kita biasa tinggal. Gw pernah baca di suatu buku, "Bagaimana cara menjadi sukses? Pergilah merantau."
Semua presiden kita bukan orang Jakarta namun mereka bekerja di Jakarta. Mantan Gubernur Sutiyoso pun ga lahir di Jakarta. Kedua orang tua gw bukan orang Jakarta, namun mereka bisa membeli rumah setelah bekerja di Jakarta. Gw yakin banyak pembaca blog gw yang orang tuanya ga dari Jakarta, tapi bekerja di Jakarta. Kebanyakan menjadi sukses, paling ga lebih baik dibanding kondisi sebelumnya. Lalu kemana orang-orang kelahiran Jakarta seperti gw harus pergi agar sukses?
Waktu kecil gw bercita-cita menjadi astronot, gw ingin menjelajahi alam semesta. Saat sekolah gw ingin menjadi diplomat, gw ingin menjelajahi dunia. Eh kok kuliahnya jurusan IT, akhirnya mentok menjelajahi kompleks perumahan :) Memang cinta (terhadap komputer) membutakan segalanya :D
Gw ingin seperti Tristan Thorn dalam Stardust yang mengelilingi dunia dan kembali sukses. Awalnya memang "terpaksa", tapi ujung-ujungnya membahagiakan. Bertemu banyak orang, mendapat banyak pengalaman... dan menemukan cinta? Mungkin yang terakhir ga perlu. Gw masih memilih cewek sebangsa untuk urusan itu. Mungkin seseorang seperti 7 di film 9 :)
Friday, October 30, 2009
Wednesday, October 28, 2009
Hari Pemuda. Lalu?
Apa saja aktivitasmu di Hari Pemuda ini? Kalau gw, bangun kesiangan, mampir ke website bokep, membantu teman menyusun skripsi, melanjutkan coding sebuah project kecil, membalas beberapa email dan mengirim invoice. Yeah, so lame. Semoga aktivitas kalian lebih baik.
Gw membayangkan, 81 tahun yang lalu pemuda-pemudi sebaya gw sibuk mengadakan rapat akbar. Mereka dengan semangat mengumandangkan Sumpah Pemuda. Sementara disini gw bingung apakah Sumpah Pocong masih diputar di bioskop.
Nasionalisme. Kata yang usang. Menjadi usang karena banyak orang yang skeptis terhadap negeri ini. Menjadi semakin usang pula karena mereka yang diskeptisi (halo pejabat!) pura-pura ga sadar dirinya diskeptisi.
Ambil contoh kasus KPK. Kalau mau jujur, mayoritas penduduk Indonesia mendukung banget keberadaan dan operasi lembaga negara itu. Sisanya yang ga mendukung karena ga peduli, ga tau atau familinya (atau dia sendiri!) beresiko dijaring KPK. Kalau semua manusia baik mendukung pemusnahan korupsi dari negeri tercinta ini, mengapa membiarkan KPK dijadikan bual-bualan? Mungkin karena ga semua manusia baik :)
Awalnya gw sangat antusias mengikuti sepak terjang KPK. Setiap membaca KOMPAS, pasti gw cari kisah KPK yang menangkap anu dan anu. Mirip film action Hollywood. Tapi sekarang? Film Bollywood jadul yang orang-orangnya item dan berbulu aja masih lebih enak dilihat.
To be honest, my faith for a better nation is starting to diminish. Gw ga tau harus percaya siapa lagi dalam perang David melawan Goliath ini. I'm skeptical. Dan biasanya lama-lama akan muncul ignorance.
Hmm.. tapi gw akan membiarkan sebuah lilin kecil menyala di sudut hati gw. Just in case. Berharap baik boleh kan? :)
Gw membayangkan, 81 tahun yang lalu pemuda-pemudi sebaya gw sibuk mengadakan rapat akbar. Mereka dengan semangat mengumandangkan Sumpah Pemuda. Sementara disini gw bingung apakah Sumpah Pocong masih diputar di bioskop.
Nasionalisme. Kata yang usang. Menjadi usang karena banyak orang yang skeptis terhadap negeri ini. Menjadi semakin usang pula karena mereka yang diskeptisi (halo pejabat!) pura-pura ga sadar dirinya diskeptisi.
Ambil contoh kasus KPK. Kalau mau jujur, mayoritas penduduk Indonesia mendukung banget keberadaan dan operasi lembaga negara itu. Sisanya yang ga mendukung karena ga peduli, ga tau atau familinya (atau dia sendiri!) beresiko dijaring KPK. Kalau semua manusia baik mendukung pemusnahan korupsi dari negeri tercinta ini, mengapa membiarkan KPK dijadikan bual-bualan? Mungkin karena ga semua manusia baik :)
Awalnya gw sangat antusias mengikuti sepak terjang KPK. Setiap membaca KOMPAS, pasti gw cari kisah KPK yang menangkap anu dan anu. Mirip film action Hollywood. Tapi sekarang? Film Bollywood jadul yang orang-orangnya item dan berbulu aja masih lebih enak dilihat.
To be honest, my faith for a better nation is starting to diminish. Gw ga tau harus percaya siapa lagi dalam perang David melawan Goliath ini. I'm skeptical. Dan biasanya lama-lama akan muncul ignorance.
Hmm.. tapi gw akan membiarkan sebuah lilin kecil menyala di sudut hati gw. Just in case. Berharap baik boleh kan? :)
Cowok harus tau jalan
Semua orang yang kenal gw dengan baik pasti tau gw orang rumahan. "Ngapain keluar kalau bisa pacaran di rumah?" "Ngapain kerja kantoran kalau bisa kerja di rumah?" "Ngapain ke toko buku kalau ada Google (yang bisa dibuka dari rumah)?"
Bahkan kalau terpaksa keluar, gw lebih memilih naik kendaraan umum. Ga perlu merayu mama untuk pinjam mobil, ga perlu keluar seratus ribu untuk bensin, bisa tidur pula! Sikap gw tentu membuat cewek agak ilfil saat dating sama gw. Entah kenapa mereka lebih memilih diantar-jemput, padahal biasanya juga bisa pergi sendiri (entah dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi)! Dasar cewek.
Untungnya gw agak autis. Kalo mereka ogah pergi ya wis. Jadi bisa santai dirumah kan :D Tapi kadang gw benar-benar harus pergi bawa kendaraan. Dan saat itu biasanya gw kelabakan: gw ga hapal jalan dan ga pakai kacamata sehingga marka jalan sering ga kelihatan!
Gw pernah nunggu lampu merah hampir sepuluh menit, dan baru sadar ternyata memang ga boleh belok (tulisannya ga terbaca). Gw juga sering nelpon rumah/teman hanya untuk bertanya, "Depan gw ada belokan itu kemana ya?" Paling bodohnya, gw pernah berhenti di tengah jalan bypass karena ragu-ragu, "Yang masuk tol sebelah kiri atau kanan ya?"
Tapi yang membuat gw kapok adalah kejadian hari ini. Pulang dari London School gw membawa mobil dengan indikator bensin sudah ke E (Empty). Karena saat itu Three-in-One, gw harus lewat rute Karet-Casablanca untuk ke Bekasi. Guess what, ternyata ga ada pom bensin selama di jalan! Terpaksa gw matiin AC, padahal lumayan macet. Keringetan, deg-degan takut mogok. Benar-benar Fear Factor (dan bodoh). Untungnya jauuuh kemudian di Cipinang ada pom bensin. Selesai isi bensin gw langsung setel AC paling dingin sambil nyanyi-nyanyi (setelah itu gw kebelet pipis karena kedinginan).
Ternyata kata teman gw, pom bensinnya sebenarnya ada, tapi harus keluar rute sedikit. Coba kalau gw tau jalan, ga perlu konyol seperti tadi.
Pesan moral: Kalau melihat gw naik mobil dan ga pakai kacamata, jangan dekat-dekat.
Bahkan kalau terpaksa keluar, gw lebih memilih naik kendaraan umum. Ga perlu merayu mama untuk pinjam mobil, ga perlu keluar seratus ribu untuk bensin, bisa tidur pula! Sikap gw tentu membuat cewek agak ilfil saat dating sama gw. Entah kenapa mereka lebih memilih diantar-jemput, padahal biasanya juga bisa pergi sendiri (entah dengan kendaraan umum atau kendaraan pribadi)! Dasar cewek.
Untungnya gw agak autis. Kalo mereka ogah pergi ya wis. Jadi bisa santai dirumah kan :D Tapi kadang gw benar-benar harus pergi bawa kendaraan. Dan saat itu biasanya gw kelabakan: gw ga hapal jalan dan ga pakai kacamata sehingga marka jalan sering ga kelihatan!
Gw pernah nunggu lampu merah hampir sepuluh menit, dan baru sadar ternyata memang ga boleh belok (tulisannya ga terbaca). Gw juga sering nelpon rumah/teman hanya untuk bertanya, "Depan gw ada belokan itu kemana ya?" Paling bodohnya, gw pernah berhenti di tengah jalan bypass karena ragu-ragu, "Yang masuk tol sebelah kiri atau kanan ya?"
Tapi yang membuat gw kapok adalah kejadian hari ini. Pulang dari London School gw membawa mobil dengan indikator bensin sudah ke E (Empty). Karena saat itu Three-in-One, gw harus lewat rute Karet-Casablanca untuk ke Bekasi. Guess what, ternyata ga ada pom bensin selama di jalan! Terpaksa gw matiin AC, padahal lumayan macet. Keringetan, deg-degan takut mogok. Benar-benar Fear Factor (dan bodoh). Untungnya jauuuh kemudian di Cipinang ada pom bensin. Selesai isi bensin gw langsung setel AC paling dingin sambil nyanyi-nyanyi (setelah itu gw kebelet pipis karena kedinginan).
Ternyata kata teman gw, pom bensinnya sebenarnya ada, tapi harus keluar rute sedikit. Coba kalau gw tau jalan, ga perlu konyol seperti tadi.
Pesan moral: Kalau melihat gw naik mobil dan ga pakai kacamata, jangan dekat-dekat.
Tuesday, October 27, 2009
Mamaku mengajarkanku tentang cewek dan kehidupan
Lebih tepatnya: Mamaku mengajarkanku bagaimana memahami wanita dan kehidupan, tapi ga secara langsung. Begini ceritanya.
Mama gw adalah mama yang cerewet. SANGAT cerewet. Belum lagi keras kepala, udah salah tetep ngotot. Suka "bohong demi kebaikan" juga, khususnya soal makanan. Seperti bilang sayurnya enak padahal rasanya pahit (tapi memang sehat). Mama gw juga payah soal keuangan. Beliau ga mau ribet. Akibatnya gw yang sekarang pencari nafkah utama sering kebakaran jenggot karena penggunaan duit "negara" ga sesuai APBN.
Ketika gw mengadu ke papa, beliau dengan bijaknya berkata, "Kalau kamu bisa mengatasi mama, kamu bakal jadi orang sukses." Ya iya lah, cobaan yang gw terima lebih dasyat dari gemblengan Kawah Candradimuka!
Tapi papa benar juga. Lama-lama gw mulai ga stres. Apakah karena mama berhenti cerewet? Tentu tidak :) Tapi gw mulai mengikuti ritme mama, semua dibawa enak (baca: cuek). Herannya, seiring dengan semakin sabarnya gw, "panca indra" gw terhadap cewek juga meningkat. Susah dijelaskan, tapi intinya cewek macam apa pun yang berinteraksi dengan gw, gw langsung tau, "Dia seperti ini. Cara berkomunikasi yang efektif dengan dia adalah begini." Tentu gw menggunakan kelebihan ini untuk tujuan baik :P
Apa tipsnya? Gw sering kebawa emosi juga kok. Tapi gw segera ingat I truly love this old lady and her actions are sincere. Biasanya langsung reda. Tapi ga jarang juga gw ikutan teriak, saat itu artinya perang dunia :D
Jadi, lain kali, kalau mama kalian cerewet, anggap aja sedang nonton sinetron :)
Mama gw adalah mama yang cerewet. SANGAT cerewet. Belum lagi keras kepala, udah salah tetep ngotot. Suka "bohong demi kebaikan" juga, khususnya soal makanan. Seperti bilang sayurnya enak padahal rasanya pahit (tapi memang sehat). Mama gw juga payah soal keuangan. Beliau ga mau ribet. Akibatnya gw yang sekarang pencari nafkah utama sering kebakaran jenggot karena penggunaan duit "negara" ga sesuai APBN.
Ketika gw mengadu ke papa, beliau dengan bijaknya berkata, "Kalau kamu bisa mengatasi mama, kamu bakal jadi orang sukses." Ya iya lah, cobaan yang gw terima lebih dasyat dari gemblengan Kawah Candradimuka!
Tapi papa benar juga. Lama-lama gw mulai ga stres. Apakah karena mama berhenti cerewet? Tentu tidak :) Tapi gw mulai mengikuti ritme mama, semua dibawa enak (baca: cuek). Herannya, seiring dengan semakin sabarnya gw, "panca indra" gw terhadap cewek juga meningkat. Susah dijelaskan, tapi intinya cewek macam apa pun yang berinteraksi dengan gw, gw langsung tau, "Dia seperti ini. Cara berkomunikasi yang efektif dengan dia adalah begini." Tentu gw menggunakan kelebihan ini untuk tujuan baik :P
Apa tipsnya? Gw sering kebawa emosi juga kok. Tapi gw segera ingat I truly love this old lady and her actions are sincere. Biasanya langsung reda. Tapi ga jarang juga gw ikutan teriak, saat itu artinya perang dunia :D
Jadi, lain kali, kalau mama kalian cerewet, anggap aja sedang nonton sinetron :)
Anak-anak pembersih kuburan
Beberapa hari yang lalu gw dan orang tua nyekar ke makam oma dan opa, lumayan dekat rumah. Seperti biasa, begitu kami mendekat ke makam, anak-anak yang sedang nongkrong dekat situ langsung rajin mendadak berusaha membersihkan makam oma+opa (mereka sepiring berdua, eh, semakam). Seperti biasa pula, mama langsung 'mengusir' mereka (hehe). Tapi melihat makam yang agak berantakan, papa akhirnya membiarkan mereka membersihkan.
Disinilah menariknya. Ada seorang anak yang sungguh-sungguh merapikan rumput. Ada anak yang merapikan tapi pakai gunting kertas (WTF???). Ada anak yang keliatannya bersemangat tapi ga ada ide mau ngapain. Ada anak yang sekedar pelengkap penderita alias pura-pura sibuk. Ada juga yang pura-pura menggunting tapi matanya melirik tangan gw yang sedang menghitung uang (untuk dikasih ke mereka).
Papa gw jelas mengomel (tapi bukan ke mereka). "Lihat tuh yang matanya ngeliatin uang. Kerja belum benar sudah menunggu dibayar. Gimana nanti kalau sudah gede." Sementara itu papa memuji (masih ngobrol ke gw) si anak yang sungguh-sungguh bekerja.
Bagaimana upah mereka? Awalnya gw ingin membagi rata, namun akhirnya gw kasih semua ke anak rajin itu (kebetulan dia paling besar), "Ini untuk kalian. Kamu yang bagi. Terserah kamu mau kasih berapa teman-temanmu. Kamu ga kasih juga gapapa, toh yang kerja kamu."
Di dalam mobil, papa bilang, "Lain kali kita pakai yang rajin itu aja."
Moral ceritanya cukup jelas kan?
Disinilah menariknya. Ada seorang anak yang sungguh-sungguh merapikan rumput. Ada anak yang merapikan tapi pakai gunting kertas (WTF???). Ada anak yang keliatannya bersemangat tapi ga ada ide mau ngapain. Ada anak yang sekedar pelengkap penderita alias pura-pura sibuk. Ada juga yang pura-pura menggunting tapi matanya melirik tangan gw yang sedang menghitung uang (untuk dikasih ke mereka).
Papa gw jelas mengomel (tapi bukan ke mereka). "Lihat tuh yang matanya ngeliatin uang. Kerja belum benar sudah menunggu dibayar. Gimana nanti kalau sudah gede." Sementara itu papa memuji (masih ngobrol ke gw) si anak yang sungguh-sungguh bekerja.
Bagaimana upah mereka? Awalnya gw ingin membagi rata, namun akhirnya gw kasih semua ke anak rajin itu (kebetulan dia paling besar), "Ini untuk kalian. Kamu yang bagi. Terserah kamu mau kasih berapa teman-temanmu. Kamu ga kasih juga gapapa, toh yang kerja kamu."
Di dalam mobil, papa bilang, "Lain kali kita pakai yang rajin itu aja."
Moral ceritanya cukup jelas kan?
Monday, August 17, 2009
Refleksi 17 Agustus
Ini bukan "refleksi bangsa kita di hari kemerdekaan". Orang-orang telah menceritakannya di televisi dan surat kabar, dan mereka melakukannya dengan baik. Ini adalah refleksi gw, seorang Thomas Wiradikusuma, karena ga ada yang lebih mengenal diri gw selain gw sendiri.
Ketika diundang jamuan makan oleh pejabat Google, yang juga dihadiri beberapa tokoh IT tanah air, gw dengan senang hati menceritakan kebenaran (kebanyakan kebobrokan) infrastruktur IT kita. Keliatannya ga ada yang salah dengan ini, kecuali kenyataan bahwa gw mengumbar kepayahan bangsa sendiri demi makan siang gratis di JW Marriott.
Gw dan teman-teman gw terbiasa melecehkan produk/merk lokal (termasuk karya seni). In my defense, kebanyakan produk lokal (terutama elektronik seperti laptop dan handphone) memang sebenarnya bukan buatan lokal. Kebanyakan hanya rebranding atau paling jauh merakit disini namun komponennya 90% impor.
Gw juga terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam menulis blog, dokumentasi, proposal atau presentasi. Gw bahkan mencoret-coret di kertas atau papan tulis menggunakan Bahasa Inggris.
Yang terakhir dan yang paling parah, gw begitu ga peduli dengan pejabat-pejabat di pemerintahan kita. Bagi gw, mereka hanya "aji mumpung". Gw sampai berpikir, "Kalau gw nanti jadi pejabat, gw juga kayak mereka ah. Everybody does that."
Apakah gw telah kehilangan identitas gw sebagai seorang putra Indonesia?
Ketika diundang jamuan makan oleh pejabat Google, yang juga dihadiri beberapa tokoh IT tanah air, gw dengan senang hati menceritakan kebenaran (kebanyakan kebobrokan) infrastruktur IT kita. Keliatannya ga ada yang salah dengan ini, kecuali kenyataan bahwa gw mengumbar kepayahan bangsa sendiri demi makan siang gratis di JW Marriott.
Gw dan teman-teman gw terbiasa melecehkan produk/merk lokal (termasuk karya seni). In my defense, kebanyakan produk lokal (terutama elektronik seperti laptop dan handphone) memang sebenarnya bukan buatan lokal. Kebanyakan hanya rebranding atau paling jauh merakit disini namun komponennya 90% impor.
Gw juga terbiasa menggunakan Bahasa Inggris dalam menulis blog, dokumentasi, proposal atau presentasi. Gw bahkan mencoret-coret di kertas atau papan tulis menggunakan Bahasa Inggris.
Yang terakhir dan yang paling parah, gw begitu ga peduli dengan pejabat-pejabat di pemerintahan kita. Bagi gw, mereka hanya "aji mumpung". Gw sampai berpikir, "Kalau gw nanti jadi pejabat, gw juga kayak mereka ah. Everybody does that."
Apakah gw telah kehilangan identitas gw sebagai seorang putra Indonesia?
Monday, June 29, 2009
Creative industry is wider than you think

Gw jarang nonton TV dan baca koran, tapi belakangan ini gw rajin baca KOMPAS setiap pagi (sebenarnya supaya gw ga bobo lagi). Seperti biasa, gw sok tau menganalisa tren (which is flawed since you can't analyze trend just by seeing recent activities). Kali ini gw melihat kecenderungan "the rise of creative industry".
Media massa memberitakan bahwa industri kreatif sanggup bertahan di masa resesi global ini. Industri kerajinan mendapat sorotan sebagai the silver bullet untuk bangkit dari resesi. For your information, baru-baru ini ada pameran industri kerajinan yang sayangnya gw lewatkan karena lebih memilih nonton Transformers 2 (yes, I'm childish).
Batik, kerajinan tangan, musik dan rumah produksi (production house—PH) adalah kategori(?) yang paling sering disebut sebagai industri kreatif. Sebenarnya industri kreatif lebih luas dari itu. To some extend, IT (Information Technology) is a creative industry.
Selain menjual diri dan menipu orang lain, ga banyak bisnis yang bisa dilakukan dengan modal "just myself". IT, khususnya perangkat lunak (aplikasi, website, animasi, desain grafis), memungkinkan kita untuk berusaha dengan modal minimal. Dengan asumsi kamu punya komputer layak pakai dan mungkin koneksi internet, kamu bisa dibilang memiliki modal untuk memulai.
Sayangnya, mungkin karena kemampuannya untuk mulai tanpa modal itu, pemerintah (we pay taxes to blame them right?) ga begitu tertarik mendukung industri IT yang low entry high return ini. Well, mungkin mereka justru berpikir "IT kan mahal, pasti butuh modal besar". Atau mungkin mereka ga tau soal "murahnya memodali industri IT". Atau mungkin mereka ga peduli.
Kadang gw iri melihat teman-teman gw yang tinggal di luar negeri. Mereka relatif mudah membangun startup company dengan dukungan dana dari Venture Capitalist. Di Indonesia, permodalan hanya dari bank atau papa/mama/paman/bibi.
Ini sangat disayangkan, padahal dengan modal relatif kecil (<50jt) Google, Amazon, Facebook, YouTube dan Twitter asli buatan putra putri Indonesia.
Note: For the record, gw dan beberapa teman sedang membuat startup dengan modal sendiri. It's for fun, but we never know what will happen next..
Saturday, June 20, 2009
Menyambut "Hari Ayah"
Dari Wikipedia: Father's Day is a day honoring fathers, celebrated on the third Sunday of June in 52 of the world's countries and on other days elsewhere. Dengan asumsi Indonesia salah satu dari 52 negara tersebut, besok adalah hari spesial untuk semua ayah di Indonesia.
My dad is a great dad. Selama sekolah selalu dapat beasiswa, karirnya sewaktu muda sangat cemerlang, bahkan Papa adalah orang pertama yang berani mencetak buku Pramodya Ananta Toer. Kalau bukan karena kasus politik yang membuat beliau ditahan belasan tahun, mungkin Papa sekarang sudah jadi seorang jendral Angkatan Darat.
Mungkin ini yang namanya takdir. Keluar penjara, Papa bertemu Mama di suatu pameran lukisan. Papa yang saat itu seorang pengusaha sedang ngobrol dengan Adam Malik (mantan wakil presiden) ketika Mama yang wartawati "mengganggunya" dengan jeprat-jepret foto. Papa dan Mama berkenalan, berpacaran lalu menikah. Setidaknya begitulah ceritanya menurut Papa.
Tapi Papa bukan manusia yang sempurna. Papa terlalu percaya dengan orang lain sehingga sering ditipu dalam berbisnis. Dengan jujur gw akui, keluarga gw pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Untungnya mama seorang wanita yang sangat gigih memperjuangkan well being dan pendidikan anak-anaknya.
Sekarang gw udah bekerja. There are lots of room for improvements, but so far I'm proud of what I do. Gw pikir, "Akhirnya, gw punya uang for myself." Well, not for myself, apparently.
Papa dan Mama mulai memasuki usia non-produktif ketika gw pertama bekerja sementara kedua adik gw masih kuliah. Gw masih ingat bagaimana gaji gw, yang untuk ukuran saat itu lumayan besar, habis dalam seminggu dua minggu. Teman-teman gw berpikir gw boros dan "pacaran melulu". Gw memang punya banyak teman cewek, but I never used money to attract them (soalnya gw pelit, hahaha).
Anyway, sampai sekarang pun gw masih berkontribusi untuk keluarga gw. Untungnya salah satu adik gw udah bekerja dan yang satu lagi tahun ini diharapkan lulus. Harapan gw, kedua adik gw bisa mengurusi diri mereka sendiri financially, biar gw yang mengurusi Papa dan Mama dan dana sisanya bisa gw alokasikan untuk membuat startup (taukah kamu gw dan beberapa kawan sedang membuat website 2.0?).
Ga sedikit cewek yang bertanya kenapa gw ga segera menikah, mengingat karir gw udah bagus. Well, jawabannya sederhana, gw ingin fokus membahagiakan kedua orang tua gw selagi bisa (dan membangun bisnis gw sambil berjalan). Gw lebih memilih adik-adik gw yang menikah dulu (and I will help them finance their wedding).
Kita mencari uang untuk bertahan hidup dan mencari kebahagiaan. Gw menemukan kebahagiaan dengan melihat orang-orang yang gw cintai berbahagia. Lagipula gw udah (belajar) menjadi seorang ayah kan?
Happy Father's Day, Dad. I hope you proud of your son.
My dad is a great dad. Selama sekolah selalu dapat beasiswa, karirnya sewaktu muda sangat cemerlang, bahkan Papa adalah orang pertama yang berani mencetak buku Pramodya Ananta Toer. Kalau bukan karena kasus politik yang membuat beliau ditahan belasan tahun, mungkin Papa sekarang sudah jadi seorang jendral Angkatan Darat.
Mungkin ini yang namanya takdir. Keluar penjara, Papa bertemu Mama di suatu pameran lukisan. Papa yang saat itu seorang pengusaha sedang ngobrol dengan Adam Malik (mantan wakil presiden) ketika Mama yang wartawati "mengganggunya" dengan jeprat-jepret foto. Papa dan Mama berkenalan, berpacaran lalu menikah. Setidaknya begitulah ceritanya menurut Papa.
Tapi Papa bukan manusia yang sempurna. Papa terlalu percaya dengan orang lain sehingga sering ditipu dalam berbisnis. Dengan jujur gw akui, keluarga gw pernah mengalami masa-masa yang sangat sulit. Untungnya mama seorang wanita yang sangat gigih memperjuangkan well being dan pendidikan anak-anaknya.
Sekarang gw udah bekerja. There are lots of room for improvements, but so far I'm proud of what I do. Gw pikir, "Akhirnya, gw punya uang for myself." Well, not for myself, apparently.
Papa dan Mama mulai memasuki usia non-produktif ketika gw pertama bekerja sementara kedua adik gw masih kuliah. Gw masih ingat bagaimana gaji gw, yang untuk ukuran saat itu lumayan besar, habis dalam seminggu dua minggu. Teman-teman gw berpikir gw boros dan "pacaran melulu". Gw memang punya banyak teman cewek, but I never used money to attract them (soalnya gw pelit, hahaha).
Anyway, sampai sekarang pun gw masih berkontribusi untuk keluarga gw. Untungnya salah satu adik gw udah bekerja dan yang satu lagi tahun ini diharapkan lulus. Harapan gw, kedua adik gw bisa mengurusi diri mereka sendiri financially, biar gw yang mengurusi Papa dan Mama dan dana sisanya bisa gw alokasikan untuk membuat startup (taukah kamu gw dan beberapa kawan sedang membuat website 2.0?).
Ga sedikit cewek yang bertanya kenapa gw ga segera menikah, mengingat karir gw udah bagus. Well, jawabannya sederhana, gw ingin fokus membahagiakan kedua orang tua gw selagi bisa (dan membangun bisnis gw sambil berjalan). Gw lebih memilih adik-adik gw yang menikah dulu (and I will help them finance their wedding).
Kita mencari uang untuk bertahan hidup dan mencari kebahagiaan. Gw menemukan kebahagiaan dengan melihat orang-orang yang gw cintai berbahagia. Lagipula gw udah (belajar) menjadi seorang ayah kan?
Happy Father's Day, Dad. I hope you proud of your son.
Wednesday, June 17, 2009
Gw gerah dengan kritik dangkal
Belakangan ini banyak "pakar" yang menjelek-jelekkan kinerja pemerintahan sekarang. Pemerintahan sekarang memang ga sempurna, semua orang juga tau, tapi kritik para "pakar" itu terlalu naif sehingga membuat gw (dan gw yakin banyak orang lain) gerah. Pendapat mereka begitu tolol sehingga kemungkinannya hanya empat:
1. Mereka memang tolol.
2. Mereka dibayar untuk tolol.
3. Mereka sempat mati suri dan baru bangun di pemerintahan sekarang sehingga terkaget-kaget dengan kondisi negara kita.
4. Mereka punya dendam pribadi (pernah berurusan dengan KPK?)
Contoh kritik mereka:
Utang negara semakin membengkak. Mereka ga tau ya ada INFLASI, RESESI GLOBAL, BUNGA DARI UTANG DULU, BENCANA ALAM BERUNTUN dan KERUGIAN NILAI TUKAR. Pemerintahan sekarang mewarisi kebobrokan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Jangan sok suci kecuali dulu ga pernah berurusan dengan politik/militer (I have to mention military because they're tightly related with government).
Semakin banyak orang miskin. Dan semakin banyak juga orang kaya. Memangnya manusia Indonesia ga boleh beranak? Jangan lupa "musibah-musibah" yang gw tulis di atas juga berperan penting menambah jumlah penduduk miskin.
Bencana beruntun berarti pemerintahan ga diberkati. WTF? Bagaimana dengan istri yang kena AIDS dari suaminya karena suaminya suka jajan? Bagaimana dengan warga Palestina yang morat-marit mempertahankan negara mereka? Mereka menderita bukan karena ga diberkati (I don't know why, I guess nobody knows why). Kalau memang SBY ga diberkati, kenapa Tuhan repot-repot menyusahkan orang lain?
Peralatan perang kita banyak yang rusak. Lalu kenapa ga diganti dari dulu? Peralatan perang kita umurnya *jauh* lebih tua dibanding umur pemerintahan sekarang. Pemerintahan sebelumnya "beruntung" karena rusaknya baru sekarang. Jangan lupa alokasi dana militer memang dikurangi karena dananya digunakan untuk hal lain (bandingkan alokasi dana pendidikan dulu dan sekarang).
BBM naik. Tahukah kamu minyak-minyak murah kita BANYAK DIJUAL UNTUK INDUSTRI DAN LUAR NEGERI SECARA ILEGAL? Kamu yang demo, industri dan calo minyak yang senang. Jangan lupa harga minyak dunia sempat naik gila-gilaan. Note: Pemerintahan sekarang mengklaim penurunan BBM sebagai prestasi mereka, menurut gw itu juga ga relevan (karena sudah sepantasnya mengikuti turunnya harga minyak dunia).
BHP (Badan Hukum Pendidikan). Pendidikan yang baik MEMANG MAHAL. Bandingkan Trisakti dan Binus (hanya contoh) dengan "universitas" lain yang lebih mirip tempat kursus (jika kamu kuliah di tempat seperti itu, jangan keburu sewot. Jawab jujur dulu: kalau kamu mampu bayar lebih, apakah kamu akan tetap disitu atau pindah ke universitas yang lebih mahal dan terkenal?). Kenapa mahal? Karena infrastrukturnya (dosen, ruang kelas, buku) mahal. Idealnya, penerapan BHP dimaksudkan agar universitas mencari dana dari riset, bukan secara kurang ajar menaikkan biaya pendidikan. Demo kampusmu karena malas berinovasi, jangan pemerintah yang disalahkan.
Neolib. Please deh, jaman sekarang masih main ideologi-ideologian? Amerika Serikat negara liberal, RRC negara komunis. Keduanya bisa makmur.
Gw bukan mendukung pemerintahan sekarang (baca ulang tulisan gw, apakah ada pujian?), gw hanya meluruskan beberapa kritik dangkal yang membuat gw gerah.
Gw ga peduli siapa presiden gw nanti, yang penting dia harus cerdas dan punya integritas. Gw ga suka orang yang kerjanya mengkritik tapi lupa dia juga bermasalah. Please deh, daripada ngurusin orang lain, kenapa ga ngurus diri sendiri sih?
Ini opini pribadi gw, kalau mo protes tolong yang cerdas.
Tambahan: Gw baru membuat akun di sbypresidenku.com, soalnya gw ingin posting isi blog gw tapi harus jadi member. Kenapa gw ingin mereka tau? Karena gw kasian mereka dicela terus, dan karena gw ingin terkenal. BHUAHAHAHA! Memangnya tukang kaos doang yang boleh beruntung selama masa kampanye ;-)
Tambahan lagi: Website SBYPresidenku payah, sering banget timeout.
1. Mereka memang tolol.
2. Mereka dibayar untuk tolol.
3. Mereka sempat mati suri dan baru bangun di pemerintahan sekarang sehingga terkaget-kaget dengan kondisi negara kita.
4. Mereka punya dendam pribadi (pernah berurusan dengan KPK?)
Contoh kritik mereka:
Utang negara semakin membengkak. Mereka ga tau ya ada INFLASI, RESESI GLOBAL, BUNGA DARI UTANG DULU, BENCANA ALAM BERUNTUN dan KERUGIAN NILAI TUKAR. Pemerintahan sekarang mewarisi kebobrokan pemerintahan-pemerintahan sebelumnya. Jangan sok suci kecuali dulu ga pernah berurusan dengan politik/militer (I have to mention military because they're tightly related with government).
Semakin banyak orang miskin. Dan semakin banyak juga orang kaya. Memangnya manusia Indonesia ga boleh beranak? Jangan lupa "musibah-musibah" yang gw tulis di atas juga berperan penting menambah jumlah penduduk miskin.
Bencana beruntun berarti pemerintahan ga diberkati. WTF? Bagaimana dengan istri yang kena AIDS dari suaminya karena suaminya suka jajan? Bagaimana dengan warga Palestina yang morat-marit mempertahankan negara mereka? Mereka menderita bukan karena ga diberkati (I don't know why, I guess nobody knows why). Kalau memang SBY ga diberkati, kenapa Tuhan repot-repot menyusahkan orang lain?
Peralatan perang kita banyak yang rusak. Lalu kenapa ga diganti dari dulu? Peralatan perang kita umurnya *jauh* lebih tua dibanding umur pemerintahan sekarang. Pemerintahan sebelumnya "beruntung" karena rusaknya baru sekarang. Jangan lupa alokasi dana militer memang dikurangi karena dananya digunakan untuk hal lain (bandingkan alokasi dana pendidikan dulu dan sekarang).
BBM naik. Tahukah kamu minyak-minyak murah kita BANYAK DIJUAL UNTUK INDUSTRI DAN LUAR NEGERI SECARA ILEGAL? Kamu yang demo, industri dan calo minyak yang senang. Jangan lupa harga minyak dunia sempat naik gila-gilaan. Note: Pemerintahan sekarang mengklaim penurunan BBM sebagai prestasi mereka, menurut gw itu juga ga relevan (karena sudah sepantasnya mengikuti turunnya harga minyak dunia).
BHP (Badan Hukum Pendidikan). Pendidikan yang baik MEMANG MAHAL. Bandingkan Trisakti dan Binus (hanya contoh) dengan "universitas" lain yang lebih mirip tempat kursus (jika kamu kuliah di tempat seperti itu, jangan keburu sewot. Jawab jujur dulu: kalau kamu mampu bayar lebih, apakah kamu akan tetap disitu atau pindah ke universitas yang lebih mahal dan terkenal?). Kenapa mahal? Karena infrastrukturnya (dosen, ruang kelas, buku) mahal. Idealnya, penerapan BHP dimaksudkan agar universitas mencari dana dari riset, bukan secara kurang ajar menaikkan biaya pendidikan. Demo kampusmu karena malas berinovasi, jangan pemerintah yang disalahkan.
Neolib. Please deh, jaman sekarang masih main ideologi-ideologian? Amerika Serikat negara liberal, RRC negara komunis. Keduanya bisa makmur.
Gw bukan mendukung pemerintahan sekarang (baca ulang tulisan gw, apakah ada pujian?), gw hanya meluruskan beberapa kritik dangkal yang membuat gw gerah.
Gw ga peduli siapa presiden gw nanti, yang penting dia harus cerdas dan punya integritas. Gw ga suka orang yang kerjanya mengkritik tapi lupa dia juga bermasalah. Please deh, daripada ngurusin orang lain, kenapa ga ngurus diri sendiri sih?
Ini opini pribadi gw, kalau mo protes tolong yang cerdas.
Tambahan: Gw baru membuat akun di sbypresidenku.com, soalnya gw ingin posting isi blog gw tapi harus jadi member. Kenapa gw ingin mereka tau? Karena gw kasian mereka dicela terus, dan karena gw ingin terkenal. BHUAHAHAHA! Memangnya tukang kaos doang yang boleh beruntung selama masa kampanye ;-)
Tambahan lagi: Website SBYPresidenku payah, sering banget timeout.
Tuesday, June 16, 2009
Syarat menggunakan ATM: Harus bisa membaca

Hari ini sekitar pukul 11:30 gw ke ATM BCA Galaxi LJ. Hooker. Disitu ada tiga mesin ATM: Pecahan 100RB, Pecahan 50RB dan Non Tunai. Gw mengantri di mesin Pecahan 100RB karena ingin menarik uang tunai. Di belakang gw ada beberapa orang sementara di depan gw seorang bapak (usia 40an) sedang bertransaksi.
Kelihatannya si bapak sedang melakukan transfer. Terlihat dari kertas-kertas yang dia bawa dan memang terlihat dari layarnya (karena postur gw lebih tinggi dan gw penasaran, "Nih orang lama amat."). Gw berpikir, "Kenapa ga pakai mesin Non Tunai ya, kan kosong. Mungkin dia sekalian mau tarik tunai."
Satu lembar, dua lembar, lima lembar... WTF? Banyak amat transaksinya, dan itu belum selesai! Gw langsung nyeletuk, "Masih lama, Pak?" "Sebentar lagi," jawabnya dengan agak ketus.
Sebagai warga negara yang baik, gw menginformasikan ke beliau, "Pak, kalau transaksi non-tunai mending disitu aja (sambil menunjuk ke mesin Non Tunai). Itu kan kosong." Alih-alih berterima kasih, dia malah menjawab ketus, "Disini juga bisa kan. Memangnya kenapa?" Well, bisa sih. Kita juga bisa menarik uang di teller, tapi orang-orang prefer ATM kan? (ini di pikiran gw).
Lalu gw bilang, "Kalau Bapak pakai yang Non Tunai, yang lain bisa transaksi. Kalo begini, yang lain ngantri, soalnya ga bisa pakai Non Tunai." Eh dia malah bilang, "Kamu mau ngajak berantem?" (ini diulang berkali-kali) Gw langsung bengong. Seriously, disitu banyak orang, dan gw yakin bapak itu terlihat sungguh "udah salah, ngotot lagi".
Akhirnya bapak itu selesai TANPA MELAKUKAN TRANSAKSI TUNAI APAPUN. Pas dia keluar, gw menengok ke luar gedung. Maksudnya ngeliatin sepeda gw takut ditendang bapak yang sakit hati itu. Eh disangkanya gw ngeliatin dia, trus dia melototin gw. Gw geleng-geleng kepala aja.
Yah, mungkin si bapak ga bisa baca tulisan "Non Tunai" (atau ga ngerti?). Atau dia ga tau kalo BCA punya fitur m-BCA, KlikBCA dan BCA by Phone untuk urusan transfer-mentransfer yang ga merepotkan diri sendiri dan orang lain.
Subscribe to:
Posts (Atom)
